Monday, March 05, 2012

10 SIASAT MENCEGAH TABRAKAN BERUNTUN


"EXPECT THE UNEXPECTED !"

SEKITAR  sebulan  yang lalu lagi-lagi korban berjatuhan akibat kecelakaan. Memang tidak sampai ada nyawa melayang, tapi sebuah tabrakan beruntun di tol jaogorawi melibatkan 18 kendaraan dan memicu kemacetan panjang (30/1/2012). Diduga penyebabnya sopir bis yang kehilangan kontrol karena rem blong. Bagaimana kalau kita ada di situ? Tabrakan beruntun ternyata masih bisa dielakkan . Yang penting kita paham situasi dan langkah antisipasinya.

1.  Cek/Persiapan Perjalanan.

Kondisi kendaraan dan manusia (pengemudi) merupakan salah satu faktor utama yang menyebabkan atau mencegah terjadinya kecelakaan. Pastikan semua komponen bekerja dengan baik dan dalam kondisi prima. Dari mesin, rem, ban, lampu, sampai wiper dan air washer. Faktor manusianya , tidak sekedar bisa mengemudi.. Pastikan dalam kondisi sehat, mampu berkonsentrasi penuh, cukup tidur, tidak mabuk atau baru mengkonsumsi obat atau alkohol.

2. Jaga Jarak Aman

Ini kunci untuk selamat dari tabrakan beruntun. Jarak yang cukup, memberi kesempatan pada pengemudi untuk menganalisa situasi untuk menghindar, mengurangi kecepatan atau pengereman. "Idealnya 4 detik. Tentukan saja satu titik, tiang listrik misalnya , kalau kendaraan Anda melewati dalam waktu kurang dari 4 detikdari mobil di depan Anda, berarti mesti jaga jarak lagi," terang Sonny Susmana dari Safety Defensive Consultant. " Kalau kondisi tidak ideal, jarak mesti ditambahkan jadi dua kali lipat."imbuh Jusri Pulubuhu dari Jakarta Defensive Driving Consulting.

3. Kecepatan

Manajemen Kecepatan sangat menentukan keselamatan berkendara di jalan tol. Patuhi batasan kecepatan. Tidak hanya ngebut, terlalu pelan juga bisa memicu kecelakaan di jalur cepat seperti tol. Pastikan saat masuk tol dari gerbang atau emergency, kecepatan sama dengan kendaraan yang sedang melaju di tol sehingga tidak memaksa yang lain tiba-tiba mengerem. 
"menurunkan kecepatan, apalagi mendadak, bisa memicu tabrakan beruntun dan macet. Jangan masuk tol saat masih gigi satu atau dua. Akselerasi sejak dari gerbang atau di jalur darurat," papar Jusri.



4. Cuaca

Cuaca ekstrem hujan deras, angin kencang sampai kabut dan panas terik , sangat mempengaruhi jarak pandang dan pengereman.."Cuaca buruk seperti di bulan-bulan ini membuat jalanan lebih lkicin, mobil perlu jarak lebih panjang untuk mengerem," kata Sony yang tiap pagi menemui tabrakan beruntun dalam perjalanan dari rumahnya di Jatibening ke kantor di Serpong.

5. Kondisi Jalan 

Meliputi permukaan jalan, permukaan aspal sampai elevasi atau kemiringan jalan bisa mempengaruhi akselerasi dan  keberhasilan pengereman. Tambahkan jarak antar kendaraan , bila jalan banyak lubang , bergelombang sampai berpasir. 







6. Jalan Tol Vs Jalan Raya 

Peluang terjadinya tabrakan beruntun di jalan tol maupun jalan raya sebenarnya tidak berbeda, sama tingginya."Cuma secara risikodi tol lebih besar. Karena antar mobil dan dalam kecepatan tinggi. Sementara di jalan raya yang padat, biasanya antara mobil dan motor," terang Sony.

7. Arah Setir

Bila aturan jarak aman dipatuhi, Anda punya waktu sekitar 4 detik untuk menganalisa dan bertindak..; Pilihan ideal adalah menghindar. Arahkan ke bahu jalan atau jalur yang kososng.  Pastikan jaraknya aman dari kendaraan di belakang, jadi bukan malah dihantam dan memicu tabrakan beruntun lagi. Arahkan setir ke titik dengan risiko paling kecil. 

8. Rem atau gas ?

Bagaimana kalau tidak mungkin menghindar? Mengerem ternyata tidak selalu jadi pilihan terbaik. Observasi, siapa yang di depan atau di belakang Anda. Kalau di belakang kendaraan lebih kecil dan di depan trailer atau bus mengeremlah. Kareana  lebih baik ditabrak mobil kecil  daripada menabrak trailer. Bagaimana kalau sebaliknya , di belakang kita trailer?
"Jangan ngerem, tergencet dan kita menerima semua energi akibata tumbukan., Kalau di depan kita mobil yang lebih kecil, lebih baik gas. Ambil posisi di antara 2 kendaraan di depan kita. Kalaupun akhirnya tertabrak, momentum tabrakannya terbagi dengan kendaraan lain di depan kita," jelas Jusri.

9. Komunikasi darurat.

Menjaga komunikasi dengan kendaraan di belakang kita sangat membantu mengurangi risiko akibat tabrakan beruntun. Caranya, dengan lampu rem. Saat melihat di depan kita terjadi tabrakan beruntun, jangan langsung dalam-dalam menginjak rem. Rem secara  bertahap dengan frekuensi rapat agar pengemudi di belakang aware, baru kemudian injak rem dalam..

10. Bagaimana kalau kita terlibat?

Dilarang panik! Panik membuat kita tidak mampu menganalisa situasi di depan dan di belakang kita. Jangan bertindak spontan, misalnya langsung ngerem, ambil tindakan dengan resiko terkecil. Peluang selamat saat kecelakaan, ditentukan oleh kondisi mental saat mengemudi. "Saat mengemudi harus selalu bersikap antisipatif, jangan terlalau rileks. Selalu pikirkan escape way saat terjadi tabrakan, expect the unexpected,"kata Jusri.

Sumber :  Tabloid Otomotif, 2-8 Februari 2012. 


Baca juga artikel menarik lainnya : 
Tips berkendara di musim hujan
7 langkah praktis agar tetap sehat dan ramping
Ingin Pekerjaan yang Bisa Dikerjakan di Rumah, dengan Gaji 3 Juta 3-5 Juta perhari ?
Kisah Sukses Para Milyarder
Cara Membuat Otak Berfikir Lebih Cepat
Cinta Indonesia di masa kini


1 comment:

Sugiono Sugiono said...

Metode 3 detik atau 4 detik adalah cara yang usang.
Yang tepat adalah menjaga jarak antar kendaraan sesuai kecepatannya, sebagaimana yang terpampang pada rambu jalan tol...kec. 100 km/jam, jarak minimum dg kendaraan depannya 100 m, 60 km/jam? 60 m.
Lantas, bagaimana mengukurnya?
Itulah paten saya dengan identitas ID 0 001 402, itu paten Indonesia yang granted 10 Mei 1997.
Mau tahu? mau jualan perangkat keselamatan berkendara? Kontak ke sugiono7508@gmail.com.
OK?