Wednesday, May 31, 2006

Editorial







MATA HAMBA :
KISAH DALAM WEWAYANGAN





Keterangan gambar : Kesedihan melingkupi DIY, seperti terlihat di RS dr Sutjipto, Yogyakarta (Sumber : Kompas Minggu 28 Mei 2006)





" Tolong pak Ustadz, buatkan mushola Pak Ustadz, kecil juga tidak apa-apa. Agar Sholat kita tidak hancur Pak Ustadz. Tolong Pak usadz sampaikan kepada para penyumbang. Untuk yang mampu saya rasa adalah hal mudah. Sekarang ini kita tidak punya rumah , tidak punya harta , jangan sampai iman dan sholat kita ikut hancur. "

DEMIKIAN salah satu permintaan salah seorang pengungsi kepada Aa Gym di salah satu tenda di Jawa Tengah yang dibangun setelah gempa tektonik sebesar 5,9 scala richter melanda beberapa kota dan desa di Yogyakarta dan sekitarnya.

Pagi itu tanggal 31 Mei 2006 . Waktu menunjukkan pukul 5.30 pagi. Hanya perasaan kedinginan yang membuat badan menggigil yang ada. Juga perasaan kesedihan yang mencekam . Disudut ada seorang ibu yang merintih menangisi anaknya yang meninggal karena tidak terselamatkan nyawanya akibat tertimpa rumah, sedangkan sang suami terpisah karena suasana yang panik. Entah di mana sang suami sekarang berada. Tidak hanya si ibu yang merasa kehilangan. Semua orang di sini merasakan duka yang mendalam karena alasan yang tidak jauh berbeda.

Tidak ada mata keriangan di sana. Semua mata terlihat sayu dan memerah. Sesekali mereka kelihatan girang ketika bantuan di atas truk datang. Tetapi akhirnya kembali mendung menggayut di mata mereka ketika kembali teringat nasibnya yang rata-rata serupa, sama-sama tidak memiliki tempat berteduh untuk keluarganya..

Tidak ada mata kesombongan di sini. Semua mata menunduk pasrah. Pasrah semata, hanya sibuk menyusut air mata sambil mencoba menata hati. Semua mata seperti kembali kepada fitrahnya. Fitrahnya sebagai seorang hamba Tuhan yang hanya siap menanti panggilan. Siapakah yang harus dipanggil, si anakkah, atau si orang tuakah yang duluan? Dan dengan cara apakah?

Terjepit bumi yang dipaksa merekah, atau "wedus gombel' yang bertiup melintas menggantikan oksigen kita ? Ataukah gunung yang tiba-tiba memuntahkan isinya, dan tanpa sengaja isinya menimpa kepala kita ? Atau laharnya yang tiba-tiba meleleh, menyergap kita (yang lagi enak-enak tidur) menuju tidur yang selamanya? Ataukah air laut yang meluap setinggi 20 meter, yang datang begitu saja, menyeret semua kehidupan yang ada ? Kelihatannya semua cara sah saja untuk Sang Maha Pemilik Kehidupan. Sah saja kalau semua kehidupan diambil kembali kalau memang "kontrak hidupnya" sudah habis .

Peluang yang kita miliki hanyalah waktu. Waktu sebelum kejadian itulah yang dapat kita pergunakan seoptimal mungkin. Kurangi melakukan hal-hal yang kurang perlu. Semaksimal mungkin waktu kita pergunakan untuk memberikan apa yang terbaik yang kita miliki untuk keluarga. Memberikan pelayanan yang terbaik kepada suami atau istri kita. Memberikan perhatian dan asuhan kepada anak kita dengan tulus. Mendidiknya supaya menjadi anak sholeh yang dicintai Tuhan. Agar ketika kita "dipanggil" duluan, doa agar kuburan kita jadi lapang dan terang bercahaya dikabulkan oleh Tuhan. Juga agar ada kavling untuk kita, di Surga. Juga ada amalan tingkah laku seperti sikap kesederhanaan dan perilaku kejujuran kita yang diteladani dan dapat dibanggakan si anak kelak.

KEHIDUPAN seringkali seperti lakon wewayangan Jawa. Ketika peran berakhir, rela tidak rela, suka tidak suka, Sang Dalang akan mengembalikan tokohnya ke dalam kotak. Sang Dalang tidak kenal tawar-menawar, sogok menyogok. Tokoh sentral pun harus pasrah ketika dicabut dari batang pisang kalau memang perannya selesai. Sang penonton pun akan ikhlas dipaksa pulang ketika gunungan dikeluarkan.

======

YOGYA BERDUKA

Pemerintah Siapkan Rp1,4 Miliar
untuk Perbaikan Jalan di Yogya dan Jateng


Laporan : Erlangga Djumena




Keterangan Gambar :
Kerusakan , di sejumlah jalan di Klaten , Jawa Tengah seperti yang terlihat di Desa Canan, Wedi. (Sumber : Kompas, 28 Mei 2006)









Jakarta, KCM
Pemerintah menyiapkan dana sekitar Rp1,4 miliar untuk memperbaiki jalan-jalan yang rusak akibat gempa di Yogyakarta dan Jawa Tengah. "Kita ada dana tanggap darurat, sekitar Rp1,4 miliar," kata Direktur Jenderal Bina Marga, Departemen Pekerjaan Umum Hendriyanto N. di kantor Wakil Presiden, Jakarta, Selasa (30/5).

Menurutnya, saat ini pihaknya masih melakukan inventarisasi kerusakan jalan yang diakibatkan oleh gempa berkekuatan 5,9 skala richter tersebut. Tapi, ia memastikan dana tersebut akan cukup, mengingat kerusakan hanya terjadi di titik-titik tertentu. Jalur jalan yang mengalami rusak terparah adalah jalur menuju Selatan, yang kebanyakan merupakan jalan provinsi dan jalan kabupaten. "Ya, seperti dari Yogya ke arah Wonosari, Yogya-Prambanan, dan Prambanan ke arah Klaten," katanya.


Sumber : Kompas Cybermedia, Selasa, 30 Mei 2006, 16:34 WIB

============
Kunjungan Presiden:
Prioritas Pada Korban Luka



Klaten, Kompas

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan pemerintah Provinsi Jateng dan Provinsi DIY bekerja dengan gigih dalam menangani bencana gempa bumi. Jemput rakyat, jangan menunggu sebab kesuksesan penanganan bencana ini tergantung pada kegesitan aparat pemerintah.

Hal tersebut diungkapkan presiden saat mengunjungi lokasi gempa di Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, Jateng. Selain itu presiden juga mengunjungi Kecamatan Prambanan dan Kecamatan Wedi.

"Prioritas kita saat ini adalah merawat dan mengobati korban luka. Setelah yang sakit sembuh, pemerintah akan membantu pembangunan rumah-rumah. Hari ini akan didorong 20 tenda yang bisa menampung 25 orang, diharapkan sudah berdiri malam ini, " kata presiden.

Presiden mengatakan, dalam situasi tanggap darurat ini koordinasi harus berjalan baik. Presiden meminta bantuan disampaikan pada sasaran. Presiden juga balik mengkritik pihak-pihak yang menyorot upaya pemerintah. Lebih baik membantu korban daripada menyorot sana-sini.

Menurut presden jika masih kekurangan tenda akan didatangkan tenda-tenda dari Aceh sisa bantuan luar negeri untuk bencana tsunami. Pembangunan sekolah akan menjadi prioritas.

Saat meninjau lokasi bencana di Masjid Al_Mutaqin Kecamatan Prambanan, seorang warga bernama Ny Ari menjerit kemudian pingsan di depan presiden dan Ny Ani Yudhoyono setelah bersalaman. Ny Ari shock karena rumahnya rata dengan tanah.

Sumber : Laporan Wartawan Kompas Wisnu Aji Deweabrata, Selasa, 30 Mei 2006, 18:23 WIB



Keterangan Gambar :
Warga di Dusun Sarap Cilik, Canan, Wedi , Klaten, Jawa Tengah, mencari barang-barang yang bisa diselamatkan dari reruntuhan rumah.

(Sumber : Kompas Minggu 28 Mei 2006)





YOGYA BERDUKA

Gempa Yogya Tewaskan 3.098 Orang

Rumah Sakit Kewalahan Menampung Korban



Keterangan gambar :
Semua rumah sakit di Yogyakarta dan daerah sekitar kebanjiran korban, Sabtu (27/5) Sejumlah korban yang dibawa rumah sakit Dr. Sardjito di Yogyakarta terpaksa ditangani di di ruangan terbuka.




Yogyakarta, Kompas

Gempa berkekuatan 5,9 skala Richter mengguncang DI Yogyakarta dan sekitarnya, Sabtu (27/5) pukul 05.53. Sampai pukul 00.15, tercatat 3.098 korban tewas dan 2.971 orang di antaranya berasal dari Kabupaten Bantul. Gempa juga meluluhlantakkan 3.824 bangunan, infrastruktur, dan memutuskan jaringan telekomunikasi di Yogyakarta dan Bantul.

Gempa di Yogyakarta ini merupakan bencana alam terbesar kedua setelah tsunami tahun 2004. Gelombang tsunami menyapu Provinsi Aceh dan Sumatera Utara, Desember 2004, dan menewaskan sekitar 170.000 orang. Bulan Maret 2005, gempa mengguncang Nias dan menewaskan sekitar 1.000 orang.

Tak hanya di Bantul, korban tewas juga berasal dari berbagai wilayah di DIY, seperti Kota Yogyakarta, Sleman, Kulon Progo, dan Gunung Kidul. Bahkan, korban tewas juga dari wilayah Jawa Tengah, seperti Klaten dan Boyolali.

Korban tewas pada umumnya karena tertimpa bangunan yang roboh, sementara korban luka-luka juga banyak terjadi karena kepanikan yang luar biasa. Mereka panik karena ada isu tsunami, lalu lintas jalan raya menjadi kacau, dan banyak tabrakan yang mengakibatkan warga terluka.

Semua rumah sakit pemerintah dan swasta penuh dengan korban gempa, baik luka ringan, parah, maupun meninggal. Rumah sakit itu umumnya tak sanggup lagi menampung korban sehingga pasien dirawat di halaman. Korban tewas banyak yang langsung dimakamkan keluarganya dengan sederhana karena banyak masyarakat yang tak lagi berada di rumah mereka.

Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X berharap para korban yang kini dirawat di rumah sakit di Yogyakarta dapat dievakuasi ke rumah sakit-rumah sakit lain, misalnya di Jakarta, agar penanganannya lebih baik. Hal ini karena rumah sakit di Yogyakarta fasilitas dan tenaganya sudah sangat terbatas.

Berdasarkan pemantauan oleh Stasiun Geofisika Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Yogyakarta, gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter (SR) ini terjadi pada pukul 05.53.58 di lepas pantai Samudra Hindia. Posisi episentrum pada koordinat 8,26 Lintang Selatan dan 110,33 Bujur Timur, atau pada jarak 38 kilometer selatan Yogyakarta pada kedalaman 33 kilometer. Gempa utama terus diikuti gempa susulan berkekuatan kecil.

Menurut Tony Agus Wijaya Ssi, pengamat geofisika pada Stasiun Geofisika Yogyakarta, kekuatan gempa belum menyebabkan gelombang tsunami. Berdasarkan perhitungan menggunakan pemodelan tsunami, gempa sebesar itu hanya sedikit menaikkan gelombang laut. ”Kalau terjadi tsunami, gelombang laut sudah akan sampai di pantai dalam 30 menit. Kalau sampai tiga jam ini belum ada, berarti tidak ada tsunami,” katanya.

Dampak gempa ini juga dialami oleh warga di Dusun Ngrangkah dan Kinahrejo, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman. Sejumlah rumah di dusun yang berada di lereng Gunung Merapi ini rusak ringan dan sedang pada bagian atap.

Sebagian besar warga di Kabupaten Sleman menduga gempa berasal dari Gunung Merapi yang aktivitasnya sedang meningkat. Selepas terjadinya gempa, warga ke luar rumah dan memandang ke arah Gunung Merapi. Gumpalan awan panas di Merapi diyakini warga sebagai sumber gempa. Namun, dugaan itu salah besar karena sumber gempa berada di Laut Selatan.

”Saya khawatir gempa tektonik ini akan memengaruhi kestabilan kubah lava Gunung Merapi. Gempa tektonik dan susulannya harus terus dipantau pengaruhnya terhadap Merapi,” kata A Pudjo Hatmodjo, Kepala Subbagian Tata Usaha Stasiun Geofisika Yogyakarta.

Kunjungan Presiden

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bersama Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X kemarin sore langsung mengunjungi korban di tempat pengungsian. Dalam konferensi pers di rumah dinas Bupati Bantul, Presiden meminta pemerintah daerah di Jawa Tengah dan DIY menggunakan segala sumber daya, misalnya pusat pembangkit, dan mengaktifkan badan koordinasi nasional.

”Utamakan perawatan dan pengobatan yang luka, evakuasi, dan pemakaman bagi jenazah yang meninggal. Menteri harus pastikan rumah sakit dan penampungan punya fasilitas cukup, penerangan operasi, obat-obatan, dokter, termasuk makanan dokter,” kata Presiden.

Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie yang datang ke Bantul mengatakan, jumlah korban belum bisa dipastikan, namun data yang ia peroleh hingga Sabtu malam berjumlah 5.000 jiwa lebih dan masih bisa bertambah. Pemerintah juga memutuskan pendanaan operasi ditanggung pemerintah pusat dan daerah lewat satuan koordinasi dan pelaksana serta satgas-satgas di provinsi dan kabupaten.

690 korban di Klaten

Gempa bumi itu juga mengakibatkan ratusan korban tewas di Klaten, Jateng. Korban tewas hingga Sabtu sore mencapai 690 orang, berdasarkan data di Posko Bencana Gempa Bumi di Kantor Pemerintah Kabupaten Klaten. Jumlah paling besar tercatat di Kecamatan Gantiwarno (167 orang), Wedi (115 orang), dan Prambanan (89 orang).

Korban lain ditemukan di hampir seluruh kecamatan lainnya, seperti di Cawas (9), Trucuk (17 orang), Wonosari (2), Jogonalan (19), Ceper (2), Klaten Selatan (2), Pedan (3), Karangdowo (4), Klaten Tengah (1), Karanganom (1), dan Kebonarum (4).

”Korban tewas ratusan jiwa, yang luka ribuan, rumah yang roboh ribuan,” kata Kepala Kesbanglinmas Klaten Eko Medi Sukasto saat ditemui di Kecamatan Gantiwarno.

Selain memakan ratusan korban jiwa, ribuan warga lainnya luka parah maupun ringan. Rumah sakit yang ada di Klaten, seperti RS Dr Soeradji Tirtonegoro, RS Jiwa Soedjarwadi, Rumah Sakit Islam Klaten, dan Rumah Sakit Cakra Husada, tidak mampu menampung membeludaknya pasien.

Banyak pasien tak bisa tertangani sehingga hanya berada di luar pagar rumah sakit. Sisanya berada di selasar atau di depan bangsal dengan tempat tidur, infus, dan pengobatan seadanya di atas lantai. Lainnya dilarikan ke rumah sakit di Solo, seperti RSOP Prof Dr Soeharso yang hingga sore menampung 48 pasien dari Klaten.

Rumah sakit mengeluhkan kesulitan bensin untuk ambulans yang menjemput korban atau mengantarkannya kembali. Keluarga korban harus antre ambulans untuk menjemput keluarganya yang tewas.

Ribuan rumah warga juga hancur rata dengan tanah atau rusak sedang, namun tidak dapat ditempati lagi. Rumah-rumah di Wedi, Gantiwarno, dan Prambanan adalah yang paling banyak hancur. Paling kurang 1.224 bangunan rusak.

Fasilitas umum, seperti SD, SMP, kantor kecamatan, kantor polsek, kelurahan, tidak luput dari kehancuran di tiga kecamatan tersebut. Jalanan aspal juga retak dan terbelah di banyak tempat, seperti terlihat di Jalan Raya Jabung, Gantiwarno. Sebuah bus pelat merah yang sedang melintas saat gempa terguling karena jalanan merekah akibat gempa. Sambungan telepon dan listrik terputus. Hingga sore hari, jalanan padat karena lalu lalang anggota tim penyelamat, ambulans, dan warga yang panik.

Warga trauma dan tidak berani masuk ke rumah. Mereka berkumpul dan duduk-duduk di tepi atau perempatan jalan. Mereka juga sempat panik dan lari setelah munculnya isu akan adanya tsunami. Sebagian besar lari ke Bukit Jimbung, perbukitan kapur yang terletak di Klaten Selatan. Terlebih mereka kembali merasakan gempa susulan, sekitar pukul 08.00, 10.00, dan 11.30.

Mal dan balaikota retak

Di Solo, saat gempa berlangsung, orang-orang berhamburan keluar dari rumah dengan berteriak-teriak histeris. Jumlah pasien korban gempa yang masuk ke RS Muwardi Solo mencapai 259 orang dan sejumlah bangunan, terutama gedung-gedung bertingkat, rusak dan dindingnya retak, seperti pusat perbelanjaan Solo Square dan Solo Grand Mall (SGM) di Jalan Slamet Riyadi Solo, termasuk bangunan di lantai 6 Balaikota Solo.

Di Solo Square, akibat gempa, balok dari beton yang menopang papan nama Solo Square yang terletak di bagian depan paling atas gedung tersebut jatuh menimpa kaca di kanopi sehingga menimbulkan kerusakan di bagian depan Solo Square. Di SGM tembok bagian luar gedung terlihat retak. Matahari Dept Store dan Hypermart tidak beroperasi.

Gedung Balaikota Solo juga tak luput dari guncangan gempa. Beberapa tembok, terutama di lantai 4, 5, dan 6 gedung tersebut, retak. Belum diketahui pasti seberapa besar kerusakan gedung tersebut. Sejumlah gedung bertingkat, seperti hotel, juga retak temboknya.

Di Kebumen

Gempa juga dirasakan hampir di seluruh daerah di Jawa Tengah bagian selatan, seperti Banyumas, Cilacap, Purbalingga, Banjarnegara, Wonosobo, dan Kebumen. Bahkan, di Kebumen dilaporkan dua rumah roboh. Gempa mengejutkan banyak penduduk yang baru melakukan aktivitasnya.

Dua rumah yang roboh di Kebumen milik Ny Marliyah, warga Desa Karangsari, Kecamatan Kutowinangun, dan rumah milik Kasmo, warga Desa Bonorowo, Kecamatan Bonorowo. Tidak ada korban dalam musibah tersebut. Menurut Tursino, tokoh nelayan di Kecamatan Ayah, nelayan sempat panik karena saat melaut tiba-tiba muncul gelombang besar. ”Namun, gelombang besar hanya berlangsung beberapa saat. Nelayan tidak tahu bahwa saat muncul gelombang besar baru saja terjadi gempa bumi,” ujarnya.

Semarang siaga penuh

Seluruh rumah sakit, baik pemerintah maupun swasta di Jawa Tengah, diinstruksikan untuk siaga penuh. Para dokter, perawat, dan tenaga medis yang semestinya libur ditekankan untuk melayani para korban.

”Seluruh biaya perawatan akan ditanggung sepenuhnya oleh Pemprov Jateng. Obat-obatan dan tenaga medis akan dikirimkan dari beberapa rumah sakit di Semarang. Bantuan logistik juga segera dikirimkan,” kata Kepala Badan Informasi, Komunikasi, dan Kehumasan Provinsi Jateng Saman Kadarisman, memaparkan instruksi Gubernur Jateng Mardiyanto saat meninjau lokasi gempa di Klaten.

Mardiyanto juga meminta kepada bupati dan wali kota yang wilayahnya terkena gempa untuk tetap melayani masyarakat dengan menginventarisasi kerugian, baik jiwa maupun harta.

Untuk mengintensifkan penanganan, Posko Satuan Koordinasi Pelaksana Penanggulangan Bencana Merapi di Magelang dialihkan sebagian ke Klaten. Posko pengungsi tersebar di berbagai kecamatan dan kelurahan, namun pusat penanganan di Kantor Bupati Klaten.

Sementara itu, warga di daerah-daerah yang diguncang gempa masih trauma. Semalam mereka tidur di luar rumah. Mereka banyak yang tidur di tanah lapang dengan tenda dan di halaman rumah. Mereka takut akan terjadi gempa lagi.

Tidak hanya orang tua yang tidur di luar, tetapi juga anak-anak kecil hanya beralaskan koran. ”Kami tidak berani tidur di dalam rumah, takut terjadi gempa lagi,” tutur Endang, ibu seorang anak di wilayah Gamping.
(ang/eki/son/nts/and/ wad/nit/why/ika)

Sumber : Kompas, Minggu, 28 Mei 2006
=====

Trauma Tsunami

Kepanikan di Bawah Bayang-bayang Bencana


Kepanikan. Itu barangkali satu kata yang bisa digunakan untuk menandai peristiwa gempa besar yang melanda Yogyakarta, Sabtu (27/5).

Satu jam setelah gempa itu terjadi, dengan cepat muncul isu adanya tsunami yang bakal melanda Yogyakarta. Siapa yang mengawali penyebaran isu yang akhirnya menjadi teror mental itu, tak ada yang tahu.

Yang pasti, hampir serentak ribuan manusia berlari, naik motor, mobil, semua menuju ke arah utara dalam sebuah kepanikan yang luar biasa. Begitu kuatnya isu itu, hampir serentak menggerakkan warga Yogyakarta ke arah utara mendekati kawasan Gunung Merapi yang masih dalam status Awas Merapi, sebagian lagi ke barat naik Bukit Menoreh, Kulon Progo.

Kemacetan terjadi di mana-mana, seperti di Jalan Bantul, Jalan Parangtritis, Jalan Magelang, dan Jalan Kaliurang. Jalan-jalan perkotaan semuanya macet menuju satu arah, ke utara. Bahkan, jalan lingkar selatan yang seharusnya berfungsi dua arah nekat diterjang menjadi satu arah. Mereka bergerak ke arah yang sama, mencari jalur- jalur ke utara. Semua ingin berebut duluan. Suara klakson bersautan dalam nada tinggi, deru mesin yang meraung-raung makin menumbuhkan kepanikan.

Di Jalan Kusumanegara, kepanikan terjadi sekitar pukul 08.00 setelah serombongan pengendara motor berteriak "air" dan "tsunami" sambil menyalakan lampu motor mereka. Teriakan itu kontan membuat masyarakat yang sudah berdiri di sepanjang jalan ikut berlarian ke arah utara.

Di Jalan Sudirman, depan Rumah Sakit Bethesda Yogyakarta, puluhan warga yang semula berada di jalanan berlarian mencari tempat yang lebih tinggi. Kondisi yang sama terjadi di sepanjang Jalan Parangtritis, Bantul. Warga yang panik akan isu tsunami berbondong menuju Kota Yogyakarta dengan mengendarai kendaraan roda dua dan mobil. Hal ini sempat memacetkan jalur lalu lintas di beberapa titik. Apalagi, lampu lalu lintas mati sejak gempa.

Kepanikan juga terjadi di sepanjang Jalan Magelang, Sleman. Warga berlarian keluar rumah, kemudian ada satu keluarga keluar membawa mobil pikap untuk mengangkut anggota keluarga dan tetangga. "Pak, ayo lari cepat," ujar seorang anak usia belasan kepada ayahnya yang sudah renta dan tidak sanggup berlari.

Rombongan warga Yogyakarta yang melarikan kendaraan dengan kencang dan lampu depan dinyalakan menyulut kepanikan warga Klaten. Sri Widodo, warga Ceper, sedang bersih-bersih kamar ketika tiba-tiba ia menyaksikan banyak orang naik kendaraan dengan kencang. "Saya ketemu orang dari arah Yogya, katanya air sudah sampai Prambanan, langsung saya lari bersama ibu dan keponakan naik motor," katanya.

Bukit Jimbung menjadi salah satu tempat pelarian warga Klaten di daerah selatan. "Tadi saya sempat lari ke sana. Banyak truk dari sungai lari ke sana, katanya banjir. Kami trauma dengan tsunami di Aceh," kata Risnu, warga Pandes, Wedi.

Warga Dusun Mrisi, Tirtonirmolo, Bantul, yang panik akibat kabar tsunami, mencari tempat yang aman di Gunung Sempu dan Gunung Majapahit di utara dusun. Kabar tsunami itu cepat menyebar karena pesan berlangsung estafet dari warga yang bergerak dari Bantul menuju Kota Yogyakarta. Fenomena yang sama terjadi di Dusun Kasongan, Bantul.

Isu tsunami menyebabkan puluhan warga yang terluka dan sekarat ditinggalkan begitu saja di pinggir jalan. Warga yang panik cenderung mengurusi keselamatan masing-masing. Lebih parah lagi, isu tsunami juga menyebabkan pemilik mobil angkutan umum yang dimintai tolong untuk mengangkut warga tidak mau berhenti. Penumpang juga tidak mau turun karena takut terkena tsunami. Angkutan itu justru tancap gas menghindari tsunami.

Kemanusiaan

Inilah peristiwa kemanusiaan yang membawa rasa iba. Seorang kakek di wilayah Krangkungan, Condongcatur, tertatih berlari ke utara, tanpa tujuan yang jelas. "Saya takut, kabarnya ada air yang mau datang ke sini," kata kakek berusia sekitar 70 tahun itu. Jauh di belakang kakek yang sedang berlari itu, lima mobil bak terbuka dengan penumpang penuh siap meluncur ke utara. Demikian pula keluarga-keluarga yang berada di wilayah itu, semua bersiap dalam mobil dalam posisi ke utara.

Lebih tragis lagi, rombongan penebang tebu dari Temanggung yang menjalani tugasnya di wilayah Imogiri. Rombongan 11 orang ini berlari-lari meninggalkan lokasi kerjanya, menempuh jarak 12 kilometer, sampai di Yogyakarta. "Ketika kami sedang bekerja, banyak orang lewat memberi tahu kami agar lari karena ada tsunami. Tanpa pikir panjang kami ikut lari, sampai di Kota Yogyakarta ini," kata Warno, salah seorang dari mereka.

"Semua itu terjadi karena faktor kebingungan saja. Di saat orang dalam kondisi seperti itu, yang ada hanya panik. Yang mereka lakukan akhirnya spontanitas-spontanitas penyelamatan diri yang sebenarnya juga tak tahu harus ke mana. Kalau toh semua bergerak ke utara, hanya karena logika sederhana saja. Kejadian di selatan, mereka menyingkir ke utara," kata budayawan Sindhunata.

Artinya, apa yang diungkapkan Sindhunata untuk menegaskan bahwa sulit diperkirakan isu tsunami muncul karena ada orang yang sengaja meniupkannya. "Yang ada hanya spekulasi orang mencari selamat. Peristiwa gempa itu sulit diprediksi sehingga sulit untuk merencanakan sesuatu dan kemudian menebarkan menjadi isu. Lain dengan letusan Gunung Merapi yang bisa diprediksi gejalanya. Bisa saja muncul isu-isu di tengah letusan Merapi," katanya.

Ungkapan Sindhunata itu diperkuat oleh antropolog UGM, Lono Simatupang, yang mengatakan, kekisruhan ini lebih karena situasi yang mencekam. Masyarakat Yogyakarta tahu betul—meskipun hanya dari televisi—akan dahsyatnya bencana tsunami di Aceh. Itu yang membawa masyarakat dalam arus ketakutan yang dahsyat.

Peristiwa gempa ini, kata Lono, jaraknya tidak jauh dari imbauan Gubernur DI Yogyakarta Sultan Hamengku Buwono X agar nelayan tidak melaut dulu karena ada gelombang pasang di Pantai Selatan.

Kenangan-kenangan semacam itu makin membuat panik warga. Peristiwa alam yang terus bertubi, seperti tsunami Aceh, banjir dan tanah longsor yang mengerikan, serta peristiwa Merapi, membuat masyarakat sensitif terhadap bencana alam.

Sekitar satu jam isu tsunami itu menguat, kemudian perlahan mereda. Namun, masyarakat tetap bergerombol di jalan-jalan kota atau perkampungan. Umumnya mereka memandang ke langit di atas Laut Selatan. Sepertinya mereka masih waswas, apa yang sesungguhnya akan terjadi di laut yang kaya kisah legendaris itu.

Isu tsunami mereda, yang kemudian mewarnai sepanjang Kota Yogyakarta adalah raungan sirene yang membawa korban meninggal atau luka, mencari rumah sakit yang kosong di Yogyakarta. Raungan sirene itu seperti rintihan hati orang-orang yang iba melihatnya. (eki/ang/wer/ben/eny/top)

Sumber : Kompas : Minggu, 28 Mei 2006
=========

Ekonomi Yogya Lumpuh Total
Bandara Adisutjipto Ditutup sampai Minggu Siang


Keterangan gambar :
Warga dan calon penumpang di Bandara Adisutjipto, Yogyakarta, Sabtu(27/5), berlari menyelamatkan diri karena adanya isu tsunami







Yogyakarta, Kompas

Kepanikan akibat gempa tektonik yang melanda Yogyakarta, Sabtu (27/5), tidak saja mengakibatkan banyak korban jiwa, tetapi seluruh sentra ekonomi daerah ini lumpuh total. Kerusakan infrastruktur listrik, telekomunikasi, pasar, bandara, stasiun kereta api, dan lumpuhnya pasar rakyat ini ditaksir menimbulkan kerugian puluhan miliar rupiah.

Kelumpuhan itu antara lain terjadi karena listrik padam, penutupan Bandara Adisutjipto, macetnya sekitar 40 base transceiver station (BTS) Telkomsel, kerusakan stasiun kereta api, serta ambruknya sejumlah pasar rakyat.

Selain itu, praktis sepanjang hari kemarin seluruh pusat pertokoan, seperti kawasan Malioboro serta kawasan sekitarnya, tutup total. Bahkan, warung-warung makan juga tutup. Beberapa minimarket yang sempat buka pagi hari diserbu sejumlah warga yang panik dengan memborong barang-barang kebutuhan pokok.

Bandara Adisutjipto ditutup akibat robohnya terminal domestik. Kejadian itu mengakibatkan dua penumpang AdamAir tujuan Jakarta tewas tertimpa bagian atas bangunan. General Manager PT Angkasa Pura I Adisutjipto Aryadi Subagyo mengemukakan, akibat penutupan bandara, diperkirakan 3.400 penumpang yang menggunakan 31 penerbangan tidak bisa diberangkatkan.

Meskipun demikian, tiga pesawat yang menginap di bandara tetap diberangkatkan beberapa saat setelah gempa. Aryadi yang didampingi Airport Duty Manager PT Angkasa Pura I Djunaedi mengungkapkan, beberapa maskapai mengalihkan penerbangan ke Bandara Adisumarno, Solo.

Diperoleh informasi, empat penerbangan Batavia Air tujuan Yogyakarta dari Jakarta, Surabaya, Pontianak, dan Balikpapan dialihkan ke Semarang.

Di Jakarta, Menteri Perhubungan Hatta Rajasa mengemukakan, Bandara Adisutjipto masih akan ditutup hingga Minggu pukul 12.00. Dirjen Perhubungan Udara Mohammad Iksan Tatang menambahkan, kerugian akibat kerusakan fisik bandara itu mencapai sekitar Rp 4,6 miliar.

Sementara jalur kereta api Yogyakarta-Solo kemarin pukul 12.00 sudah bisa dilalui meski untuk melewati rel yang rusak di lintas Brambanan-Srowot (Klaten) kecepatan kereta harus dikurangi hingga lima kilometer per jam.

Kehilangan daya

PT PLN Penyaluran dan Pusat Pengatur Beban Jawa Bali (P3B) Region Jateng-DIY kehilangan daya 23 megawatt akibat kerusakan gardu induk listrik di Pedan, Klaten. Ini disampaikan Asisten Manajer Operasi Sistem PT PLN P3B Region Jateng-DIY Cahyono Widiadi.

Itu berarti akan terjadi pemadaman secara bergilir dan bertahap di seluruh wilayah Jateng-DIY. Pemadaman dimulai Sabtu pukul 17.00-22.00.

Berdasarkan pantauan, pasar-pasar yang menjadi urat nadi perekonomian rakyat di DI Yogyakarta sebagian besar tidak beroperasi. Bahkan, Pasar Piyungan nyaris rata dengan tanah. Sebagian bangunan Pasar Bantul juga roboh.

Gempa ini mengakibatkan ratusan infrastruktur ekonomi di Bantul, Kota Yogyakarta, dan Sleman rusak maupun hancur. Plaza Ambarrukmo dan Saphir Square, dua mal paling baru di Yogyakarta, misalnya, rusak di beberapa bagian sehingga dipastikan tutup. Kondisi serupa juga dialami sejumlah hotel berbintang.

Ekonom dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta Prof Dr Edy Suandi Hamid memperkirakan bahwa kerugian akibat gempa dalam beberapa hari ke depan bisa mencapai puluhan miliar rupiah. (Tim Kompas)

Sumber : Kompas Minggu, 28 Mei 2006

Tuesday, May 30, 2006

Suryakanta






PENDIDIKAN ANAK USIA DINI
DARI SUDUT PANDANG ISLAM

Oleh : Rina Yuliwati *

PENDIDIKAN diambil dari kata dasar 'Didik', yang didalamnya terdapat arti yang luas yaitu; transformasi intelektual, transformasi nilai-nilai moral dan kespiritualitasan. Mendidik tidak sama dengan mengajar. Mendidik lebih luas, terus menerus dan didalamnya juga terdapat proses mengajar. Mengajar hanya sebuah transfer ilmu dan pengetahuan dari seorang pengajar dan yang belajar. Sedangkan mendidik lebih memerlukan keteladanan dari pendidik, contoh nyata, serta pengarahan kepada anak didik yang berlangsung kontinyu dan selamanya. Jadi mendidik lebih berorientasi pada proses, bukan hasil. Pendidik yang utama ialah seorang ibu, lalu ayah, lalu lingkungan keluarga, dan sekolah. Banyak sekali terdapat para pengajar, namun sangat sedikit seorang pendidik.


Tanggung Jawab Pendidikan pada Anak

Pendidikan pada anak merupakan tanggung jawab utama kedua orang tua, baru agen pendidik yang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,

"Setiap bayi yang lahir memiliki fitrah ( tauhid ), maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi" ( HR. Bukhori dan Muslim ).

Kesadaran bahwa tugas utama mencerdaskan seorang anak adalah tugas orang tua diharapkan dapat memberikan pengaruh positif dalam pembentukan tanggung jawab dan pengkondisian lingkungan keluarga untuk mewujudkan anak-anak yang cerdas secara intelektual, mental dan spiritual.

Sejak Kapan Pendidikan Anak Bermula?

Dalam terminologi psikologi perkembangan, pendidikan anak sudah dimulai pada masa anak di dalam kandungan seorang ibu, sejak janin tercipta. Pendidikan anka pada masa kandungan yaitu dengan cara, menstabilkan kondisi emosional ibu, memberikan gizi yang baik, membawa janin bersama dengan ibu ke dalam situasi yang baik, menenangkan dan kondusif, mendapatkan dukungan dan motivasi dari suami, serta mendapatkan jaminan perlindungan yang baik dari keluarga besar dan lingkungan sosialnya. Dalam beberapa penelitian salah satu cara mendidik anak bisa melalui pendengaran musik klasik pada ibu dan janin, hal ini dipercaya bisa menambah kecerdasan pada anak.

Namun lebih dalam dari itu, dalam Islam, pendidkan seorang anak dimulai jauh dari sebelum janin tercipta. Menurut Suharsono, dalam bukunya "Mencerdaskan Anak", pendidikan anak dalam Islam dimulai dari beberapa tahap, yaitu:

1. Masa Pranikah
Pendidikan anak pada masa ini, disebut sebagai masa persiapan. Seorang calon ayah dan calon ibu diharapkan sudah mempersiapkan seorang anak yang berpotensi dengan cara pembinaan kesadaran untuk membina sebuah keluarga yang sakinah, mawadah warohmah. Cara ini bermula ketika seorang muslim atau muslimah mulai mencari calon pasangan hidupnya dengan bersandar pada 4 kriteria yang diberikan oleh Rasulullah, yaitu: "Seseorang dipilih karena 4 hal, kecantikannya, keturunannya, kekayaannya dan agamanya, maka pilihlah karena agama, maka akan selamat hidupmu". Standar agama, jelas dinomersatukan dalam Islam mendahului standar nafsu manusia, dengan harapan anak yang lahir kemudian akan membawa kepada fitrahnya, yaitu ketauhidan yang murni terhadap Allah. Begitupula proses ketika pembinaan pranikah pada masa pengenalan pasangan (ta'aruf) hendaknya berdasarkan syariah agama.

2. Proses Pernikahan
Pernikahan yang baik, adalah pernikahan yang sesuai standar agama, dimana rukun2 nikahnya tercapai, walimah (resepsi) dilaksanakan dengan sederhana dan khidmat, izin dan doa restu dari sanak saudara dan kerabat, serta legal secara hukum negara. Pernikahan yang ditutupi, tidak syah, dan bahkan hubungan tanpa pernikahan akan membawa efek buruk bagi kedua orang tua nantinya, dan juga calon anaknya. Penelitian membuktikan bahwa anak yang lahir diluar pernikahan yang syah mengalami ketidakstabilan mental dan emosional. Jika hal ini terjadi, maka harapan untuk mewujudkan anak yang cerdas sangat kecil.

3. Proses Pembuahan ( Intercouse )
Proses pembuahan antara kedua orang tua sangat dipentingkan dalam Islam. Ada tata cara khusus dan doa2 yang dipanjatkan ketika kedua orang tua saling berhubungan. Hal ini dikarenakan proses pembuahan adalah proses cikal bakal janin yang sesungguhnya. Jika terjadi penyimpangan maka dikhawatirkan anak akan mengalami defisiensi baik secara mental, fisik, psikis dan bahkan mungkin spiritual nantinya.

4. Masa mengandung
Pada masa ini, seorang ibu secara psikologis sedang dalam kebimbangan, dan kecemasan. Maka lingkungan yang kondusif secara mental dan spiritual amat dibutuhkan. Janin juga memerlukan gizi yang seimbang, untuk itu kesadaran akan nilai kesehatan dan kebersohan pada orang tua menjadi penting. Kehadiran dan dukungan dari calon ayah, serta keluarga bisa membantu ibu dalam menengaknan dirinya. Anak yang baik dalam masa kandungan berpotensi juga menjadi optimal dalam hidupnya kelak.

5. Masa kelahiran dan pengasuhan
Pada masa bayi lahir dalam Islam disunnahkan untuk, diadzankan (atau iqomah) oleh sang ayah. Dalam hadits lain di tahnik (memberikan madu/kurma pada mulut atas bayi), lalu di aqiqah pada usia 7 hari, dicukur lalu bersedekah sesuai berat rambutnya, dan disusui sampai usia maksimal 2 tahun. Adzan dan iqomah dimaksudkan agar anak telah terdidik dari sejak lahir dengan penanaman ketauhidan (potensi spiritual), tahnik dan ASI dimaksudkan agar anak mendapat nutrisi (potensi kesehatan, emosional, dan intelektual), aqiqah, cukur rambut dan sedekah dimaksudkan agar anak terbiasa untuk mensyukuri nikmat dan berbagi (potensi kecerdasan sosial). Sedalam inilah ternyata Islam mendidik seorang manusia agar bermanfaat kelak.

Pola Pendidikan yang Baik Untuk Anak

Pala pendidikan seorang anak seharusnya sesuai dengan tahapan perkembangan dan usia anak tersebut. Secara umum, dunia anak adalah bermain. Maka pendidikan pada usia ini tertumpu pada hal itu. Masa kanak-kanak dibagi menjadi 2 tahap, yaitu masa kanak-kanak awal dan akhir. Pada masa kanak-kanak awal ( 3-6 tahun ), seorang anak berpusat pada eksplorasi benar2 yang kongkrit. Imajinasi sangat tinggi, Masa ini juga biasa disebut sebagai "The Golden Ages", yaitu masa penyerapan informasi terbesar dalam tahap perkembangan manusia ( + 50% informasi terserap ). Pendidikan yang baik pada masa ini adalah pendidikan yang berpola pada permainan, cerita (pembentukan karakter), dan bernyanyi. Anak dibiarkan mengeksplorasi dunia ide, imajinasi dan pengalaman konkrit melalui contoh2 yang nyata, agar segala potensi kecerdasan bisa optimal. Penanaman nilai2 yang positif juga harus dikembangkan dengan cara yang bijak dan metode keteladanan yang baik.

Sedangkan pendidikan pada masa kanak2 akhir ( 6-12 tahun ), mulai dipusatkan pada penanaman nilai2 dan norma-norma melalui keteladanan dengan contoh langsung yang dimulai dari pendidik terlebih dahulu. Seperti kata seorang pelopor psikologi, Carl Gustav Jung yang mengatakan

"If there is anything that we wish to change in the child, we should first examine it and see whether it is not something that could better be changed in ourselves".

Potensi kecerdasan akan mulai terbentuk, dan seyogyanya orang tua diharapkan mengarahkan potensi tersebut akan minat dan bakat anak lebih optimal. Penaman spiritual juga mulai diarahkan pada masa ini. Seperti Rasulullah sudah menganjurkan anak untuk sholat pada usia 7 tahun, jika tidak maka ada "punishment" berupa pukulan ringan pada anak tersebut.

Pola pendidikan ini juga harus ditunjang dengan kematangan, kebijaksanaan dan konsep pendidikan kedua orang tua bagi anaknya, lingkungan keluarga yang mendukung, lingkungan sekolah serta lingkungan sosial yang baik. Semua elemen ini harus berekrjasama untuk membangun kecerdasan seorang anak, baik secara intelektual ( IQ ), emosional ( EQ ) dan spiritual ( SQ ).


Pertimbangan Orang Tua dalam Memilih
Sebuah Institusi Pendidikan bagi Seorang Anak

Pada saat ini, banyak sekali sekolah-sekolah yang menawarkan konsepnya untuk perkembangan seorang anak. Bagaimana cara memilih sekolah yang baik, berikut beberapa hal utama yang harus dipertimbangkan dalam memilih sebuah institusi pendidikan bagi seorang anak:

  1. Konsep pendidikan itu sendiri. Apakah konsep sekolahnya berpusat pada penilaian agama saja (pesantren), atau intelektualitas saja (konvensional) atau konsep yang menyeimbangakan semua kecerdasan ( Multiple Intelligences ) seperti sekolah2 terpadu, nonkonvensional dan sekolah plus.
  2. Sebuah konsep dalam sekolah, dapat dijabarkan dalam sebuah kurikulum. Maka orang tua juga harus melihat kemana arah kurikulum sekolah anaknya itu akan dibawa? Apakah berorientasi pada proses atau sekedar hasil? Apakah kurikulum yang ditawarkan focus pada satu budang atau banya hal? Hal ini bisa dilihat dari profile lulusan2nya yang telah ada.
  3. Fasilitas sekolah yang mendukung dan lingkungan belajar yang kondusif, antara lain bisa dilihat dari penyediaan ruang kelas, ruang2 yang ekstra, perbadingan rasioa antar guru dan murid, media pengajaran, dst-nya.
  4. Lokasi yang strategis, biaya yang sesuai dengan kemampuan orang tua
  5. Status sekolah, apakah memilih yang yang negri atau swasta? Terakreditasi atau diakui, atau yang lainnya?
Demikianlah, mudah-mudahan tulisan ini bermanfaat bagi orang tua yang ingin memilihkan jalur pendidikan yang terbaik bagi anak-anak sesuai dengan fitrah dirinya.

* Penulis adalah Head of Educational di Ar-Radhia, al Quran Learning Centre untuk Anak-anak ,
berdomisili di Jakarta .

Monday, May 22, 2006

Cermin Budaya








BUDAYA BETAWI :
BUDAYA ASLI KOTA JAKARTA


Jakarta memang punya daya pesona luar biasa. Kedudukannya sebagai ibukota Negara Indonesia telah memacu perkembangannya menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat perindustrian, dan pusat kebudayaan. Jakarta menjadi muara mengalirnya pendatang baru dari seluruh penjuru Nusantara dan juga dari manca negara. Unsur. seni budaya yang beranekaragam yang dibawa serta oleh para pendatang itu menjadikan wajah Jakarta semakin memukau, bagaikan. sebuah etalase yang memampangkan keindahan Jakarta ratna manikam yang gemerlapan. lbarat pintu gerbang yang megah menjulang Jakarta telah menyerap ribuan pengunjung dari luar dan kemudian bermukim sebagai penghuni tetap.

Lebih dari empat abad lamanya arus pendatang dari luar itu terus mengalir ke Jakarta tanpa henti-hentinya. Bahkan sampai detik inipun kian hari tampak semakin deras, sehingga menambah kepadatan kota. Pada awal pertumbuhannya Jakarta dihuni oleh orang-orang Sunda, Jawa, Bali, Maluku, Melayu, dan dari beberapa daerah lainnya, di samping orang-orang Cina, Belanda, Arab, dan lain-lain, dengan sebab dan tujuan masing- masing. Mereka membawa serta adat-istiadat dan tradisi budayanya sendiri Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi antar penduduk, adalah bahasa Melayu dan bahasa Portugis Kreol, pengaruh orang-orang Portugis yang lebih dari satu abad malang melintang berniaga sambil menyebarkan kekuasaanya di Nusantara.

Di Jakarta dan sekitarnya berangsur-angsur terjadi pembauran antar suku bangsa, bahkan antar bangsa, dan lambat laun keturunannya masing- masing kehilangan ciri-ciri budaya asainya. Akhirnya sernua unsur itu luluh lebur menjadi sebuah kelompok etnis baru yang kemudian Betawi etnis baru yang kemudian dikenal dengan sebutan masyarakat Betawi.

Dari masa ke masa masyarakat Betawi terus berkembang dengan ciri-ciri budayanya yang makin lama semakin mantap sehingga mudah dibedakan dengan kelompok etnis lain. Namun bila dikaji pada permukaan wajahnya sering tampak unsur-unsur kebudayaan yang menjadi sumber asalnya. Jadi tidaklah mustahil bila bentuk kesenian Betawi itu sering menunjukkan persamaaan dengan kesenian daerah atau kesenian bangsa lain.

Bagi masyarakat Betawi sendiri segala yang tumbuh dan berkembang ditengah kehidupan seni budayanya dirasakan sebagai miliknya sendiri seutuhnya, tanpa mempermasalahkan dari mana asal unsur-unsur yang telah membentuk kebudayaannya itu. Demikian pulalah sikap terhadap keseniannya sebagai salah satu unsur kebudayaan yang paling kuat mengungkapkan ciriciri ke Betawiannya, terutama pada seni pertunjukkannya..

Berbeda dengan kesenian kraton yang merupakan hasil karya para seniman di lingkungan istana dengan penuh pengabdian terhadap seni, kesenian Betawi justru tumbuh dan berkembang di kalangan rakyat secara spontan dengan segala kesederhanaannya. Oleh karena itu kesenian Betawi dapat digolongkan sebagai kesenian rakyat.

Salah satu bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat adalah ondel-ondel.

ONDEL-ONDEL

Sosok Ondel-ondel disimbolkan sebagai wujud leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar ± 2,5 m dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalam. Ondel-ondel laki-laki di cat dengan warna merah, sedang yang perempuan dicat dengan warna putih.

Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang terdapat di beberapa daerah lain. Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, di Bali barong landung. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa. Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misalnya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel ternyata masih tetap bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta.

GAMBANG KROMONG

Dalam dunia musik Betawi terdapat perbauran yang harmonis antara unsur pribumi dengan unsur Cina, dalam bentuk orkes gambang kromong yang tampak pada alat-alat musiknya. Sebagian alat seperti gambang,kromong, kemor, kecrek, gendang, kempul dan gong adalah unsur pribumi, sedangkan sebagian lagi berupa alat musik gesek Cina yakni kongahyan, tehyan, dan skong. Dalam lagu-lagu yang biasa dibawakan orkes tersebut, rupanya bukan saja terjadi pengadaptasian, bahkan pula pengadopsian lagu-lagu Cina yang disebut pobin, seperti pobin mano Kongjilok, Bankinhwa, Posilitan, Caicusiu dan sebagainya. Biasanya disajikan secara instrumental.
Terbentuknya orkes gambang kromong tidak dapat dilepaskan dari Nie Hu-kong, seorang pemimpin golongan Cina pada pertengahan abad ke- delapan belas di Jakarta. Pada saat itu ia memang dikenal sebagai penggemar musik. Atas prakarsanyalah terjadi penggabungan alat-alat musik yang biasa terdapat dalam gamelan pelog slendro dengan yang dari Tiongkok. Terutama orang- orang peranakan Cina, seperti halnya Nie Hu-kong, lebih dapat menikmati tarian dan nyanyian para ciokek, yaitu para penyanyi. Ciokeks merangkap penari pribumi yang biasa diberi nama bunga-bunga harum di Tiongkok, seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Hoa, Han Siauw dan lain-lain. Pada masa-masa lalu orkes gambang kromong hanya dimiliki oleh babah- babah peranakan yang tinggal di sekitar Tangerang dan Bekasi, selain di Jakarta sendiri.

TARI COKEK

Dewasa ini orkes gambang kromong biasa digunakan untuk mengiringi tari pertunjukan kreasi baru, pertunjukan kreasi baru, seperti tari Sembah Nyai, Sirih Kuning dan sebagainya, disamping sebagai pengiring tari pergaulan yang disebut tari cokek. Tari cokek ditarikan berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Tarian khas Tanggerang ini diwarnai budaya etnik China. Penarinya mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penarinya, yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat.



Sebagai pembukaan pada tari cokek ialah wawayangan. Penari cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki.

Setelah itu mereka mengajak tamu untuk menari bersama,dengan mengalungkan selendang. pertama-tama kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila yang diserahi selendang itu bersedia ikut menari maka mulailah mereka ngibing, menari berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak yang dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Ada kalanya pula pasangan-pasangan itu saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup leluasa biasa pula ada gerakan memutar dalam lingkaran yang cukup luas. Pakaian penari cokek biasanya terdiri atas baju kurung dan celana panjang dari bahan semacam sutera berwarna.

Ada yang berwarna merah menyala, hijau, ungu, kuning dan sebagainya, polos dan menyolok. Di ujung sebelah bawah celana biasa diberi hiasan dengan kain berwarna yang serasi. Selembar selendang panjang terikat pada pinggang dengan kedua ujungnya terurai ke bawah Rambutnya tersisir rapih licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk ronde bergoyang-goyang.

TEATER LENONG

Orkes gambang kromong biasa pula mengiringi teater lenong. Teater rakyat Betawi ini dalam beberapa segi tata pentasnya mengikuti pola opera Barat, dilengkapi dekor dan properti lainnya, sebagai pengaruh komedi stambul, komedi ala Barat berbahasa Melayu, yang berkembang pada awal abad ke- duapuluh.

Dewasa ini dikenal dua macam lenong. Bila yang dibawakan adalah cerita- cerita kerajaan atau cerita bangsawan, disebut lenong denes, sedang bila ceritanya diangkat dari kehidupan rakyat atau jagoan disebut lenong preman. Lenong denes dapat dianggap sebagai perkembangan dari beberapa bentuk teater rakyat Betawi yang dewasa ini telah punah, yaitu wayang sumedar, senggol, dan wayang dermuluk. Sedang lenong preman adalah perkembangan dari wayang sironda. Bahasa yang dipergunakan dalam lenong denes adalah bahasa Melayu Tinggi, yaitu variasi bahasa Melayu halus yang struktur dan perbendaharaan katanya bersifat Melayu Klasik. Sedangkan Bahasa yang dipergunakan dalam lenong preman adalah dialek Betawi sehari- hari, sehingga sangat komunikatif dan akrab dengan penontonnya.

ORKES TANJIDOR

Orkes tanjidor mulai timbul pada abad ke 18. VaIckenier, salah seorang Gubernur Jenderal Belanda pada jaman itu tercatat memiliki sebuah rombongan yang terdiri dari 15 orang pemain alat musik tiup, digabungkan dengan pemain gamelan, pesuling Cina dan penabuh tambur Turki, untuk memeriahkan berbagai pesta. Karena biasa dimainkan oleh budak-budak, orkes demikian itu dahulu disebut Slaven-orkes.

Pengaruh Eropa yang kuat pada salah satu bentuk musik rakyat Betawi, tampak jelas pada orkes tanjidor, yang biasa menggunakan klarinet, trombon, piston, trompet dan sebagainya. Alat-alat musik tiup yang sudah berumur lebih dari satu abad masih banyak digunakan oleh grup-grup tanjidor. Mungkin bekas alat-alat musik militer pada masa jayanya penguasa kolonial [tempo doeloe]. Dengan alat-alat setua itu tanjidor biasa digunakan untuk mengiringi helaran atau arak-arakan pengantin dengan membawakan lagu-lagu barat berirama mars dan wals. Lagu-lagu lama ini sulit dilacak asal-usulnya, karena telah disesuaikan dengan selera dan kemampuan ingatan panjaknya dari generasi kegenerasi. Dewasa ini tanjidor sering ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu dan untuk memeriahkan arak-arakan.

KERONCONG TUGU

Musik Betawi lainnya yang banyak memperoleh pengaruh Barat adalah keroncong tugu yang konon berasal dari Eropa Selatan. Sejak abad ke 18 musik ini berkembang di kalangan Masyarakat Tugu, yaitu sekelompok masyarakat keturunan golongan apa yang disebut Mardijkers, bekas anggota tentara Portugis yang dibebaskan dari tawanan Belanda. Setelah beralih dari Katolik menjadi Protestan, mereka ditempatkan di Kampung Tugu, dewasa ini termasuk wilayah Kecamatan Koja, Jakarta Utara, dengan jemaat dan gereja tersendiri yang dibangun pertama kali pada tahun 1661. Pada masa-masa yang lalu keroncong ini dibawakan sambil berbiduk-biduk di sungai di bawah sinar bulan, disamping untuk pertunjukan, bahkan untuk mengiringi lagu-lagu gerejani.
Alat-alat musik keroncong tugu masih tetap seperti tiga abad yang lalu, terdiri dari keroncong, biola, ukulele, banyo, gitar, rebana, kernpul, dan selo.

Dalam hal kostum ada satu hal yang unik, yaitu tiap mengadakan pertunjukan dimana saja dan kapan saja, para pemainnya selalu mengenakan syal yang dililitkan pada leher masing-masing. Sedangkan para pemusik wanita mengenakan kain kebaya.

ORKES GAMBUS & ORKES REBANA

Musik Betawi yang berasal dari Timur Tengah adalah orkes gambus. Pada kesempatan-kesempatan tertentu, misalnya untuk memeriahkan pesta perkawinan, orkes gambus digunakan untuk mengiringi tari zafin, yakni tari pergaulan yang lazimnya hanya dilakukan oleh kaum pria saja. Tetapi sekarang ini sudah mulai ada yang mengembangkannya menjadi tari pertunjukan dengan mengikutsertakan penari wanita. Di samping orkes gambus, musik Betawi yang menunjukkan adanya pengaruh Timur Tengah dan bernafaskan agama Islam adalah berbagai jenis orkes rebana. Berdasarkan alatnya, sumber sair yang dibawakannya dan latar belakang sosial pendukungnya rebana Betawi terdiri dari bermacam-macam jenis dan nama, seperti rebana ketimpring, rebana ngarak, rebana dor dan rebana biang. Sebutan rebana ketimpring mungkin karena adanya tiga pasang kerincingan yakni semacam kecrek yang dipasang pada badannya yang terbuat dari kayu.
Kalau rebana Ketimpring digunakan untuk memeriahkan arak-arakan, misalnya mengarak pengantin pria menuju rumah mempelainya biasanya disebut rebana ngarak, disamping ada yang menggunakan rebana khusus untuk itu, yang ukurannya lebih kecil. Syair-syair yang dinyanyikan selama arak-arakan antara lain diambil dari kitab Diba atau Diwan Hadroh.

Rebana ketimpring yang digunakan untuk mengiringi perayaan - perayaan keluarga seperti kelahiran, khitanan, perkawinan dan sebagainya, disebut rebana maulid. Telah menjadi kebiasaan di kalangan orang Betawi yang taat kepada agamanya untuk membacakan syair yang menuturkan riwayat Nabi Besar Muhammad SAW. sebagai acara utamanya yang sering kali diiringi rebana maulid. Syair-syair pujian yang biasa disebut Barjanji, karena diambil dari kitab Syaraful Anam karya Syeikh Barzanji.

Rebana dor biasa digunakan mengiringi lagu lagu atau yalil seperti Shikah, Resdu, Yaman Huzas dan sebagainya.

Rebana kasidah (qosidah) seperti keadaannya dewasa ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari rebana dor. Lirik lirik lagu yang dinyanyikannya tidak terbatas pada lirik-lirik berbahasa Arab, melainkan banyak pula yang berbahasa Indonesia. Berlainan dengan jenis jenis rebana lainnya, pada rebana qasidah dewasa ini sudah lazim kaum wanita berperan aktif, baik sebagai penabuh maupun sebagai pembawa vokal. Dengan dernikian rebana kasidah lebih menarik dan sangat populer.

Orkes rebana biang di samping untuk membawakan lagu berirama cepat tanpa tarian yang disebut lagu-lagu zikir, biasa pula digunakan untuk mengiringi tari belenggo. Sebagaimana umumnya tarian rakyat, tari belenggo tidak memiliki pola tetap. Gerak tarinya tergantung dari perbendaharaan gerak-gerak silat yang dimiliki penari bersangkutan. Biasanya tari belenggo dilakukan oleh anggota grup rebana biang sendiri secara bergantian. Kalau pada masa-masa lalu tari belenggo hanya merupakan tari kelangenan, dewasa ini sudah berkembang menjadi tari pertunjukan dengan berpola tetap. Di samping itu orkes rebana biang biasa digunakan sebagai pengiring topeng belantek yaitu salah satu teater rakyat Betawi yang hidup di daerah pinggiran Jakarta bagian Selatan.

ORKES & TARI SAMRAH

Orkes samrah berasal dari Melayu sebagaimana tampak dari lagu-lagu yang dibawakan seperti lagu Burung Putih, Pulo Angsa Dua, Sirih Kuning, dan Cik Minah dengan corak Melayu, disamping lagu lagu khas Betawi, seperti Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang-lenggang Kangkung dan sebagainya. Tarian yang biasa di iringi orkes ini disebut Tari Samrah. Gerak tariannya menunjukkan persamaan dengan umumnya tari Melayu yang mengutamakan langkah langkah dan lenggang lenggok berirama, ditambah dengan gerak-gerak pencak silat, seperti pukulan, tendangan, dan tangkisan yang diperhalus. Biasanya penari samrah turun berpasang-pasangan. Mereka menari diiringi nyanyian biduan yang melagukan pantun-pantun bertherna percintaan dengan ungkapan kata-kata merendahkan diri seperti orang buruk rupa hina papa tidak punya apa-apa

TARI SILAT


Tari Betawi yang sepenuhnya merupakan aneka gerak pencak silat disebut tari silat. Tari ini ada yang diiringi tabuhan khusus yang disebut gendang pencak. Iringan lainnya yang juga bisa digunakan ialah gambang kromong, gamelan topeng dan lain-lain. Di kalangan masyarakat Betawi terdapat berbagai aliran silat seperti aliran Kwitang, aliran Tanah Abang, aliran Kemayoran dan sebagainya. Gaya-gaya tari silat yang terkenal antara lain gaya seray, gaya pecut, gaya rompas dan gaya bandul. Tari silat Betawi menunjukkan aliran atau gaya yang diikuti penarinya masing-masing.

BUDAYA BETAWI YANG DIPENGARUHI BUDAYA SUNDA


Pada gamelan ajeng, di samping ada pengaruh Sunda juga tampak adanya unsur Bali seperti pada salah satu lagu yang biasa diiringinya yang disebut lagu Carabelan atau Cara Bali. Pada awalnya gamelan ini bersifat mandiri sebagai musik upacara saja. Dalam perkembangan kemudian biasa digunakan untuk mengiringi tarian yang disebut Belenggo Ajeng atau Tari Topeng Gong. Orkes ini juga berfungsi sebagai pengiring wayang kulit atau wayang wong yaitu salah satu unsur kesenian Jawa yang diadaptasi oleh masyarakat Betawi terutama di pinggiran Jakarta.

Musik Betawi lainnya yang banyak menyerap pengaruh Sunda adalah gamelan topeng. Disebut demikian karena gamelan tersebut digunakan untuk mengiringi pagelaran teater rakyat yang kini dikenal dengan sebutan topeng Betawi. Popularitas topeng Betawi bagi masyarakat pendukungnya adalah kemampuannya untuk menyampaikan kritik sosial yang tidak terasa menggelikan hati. Salah satu contohnya adalah lakon pendek Bapak jantuk, tampil pada bagian akhir pertunjukan yang sarat dengan nasehat- nasehat bagi ketenteraman berumah tangga. Di antara tarian-tarian yang biasa disajikan topeng Betawi adalah Tari Lipetgandes, sebuah tari yang dijalin dengan nyanyian, lawakan dan kadang-kadang dengan sindiran-sindiran tajam menggigit tetapi lucu. Tari- tari lainnya cukup banyak memiliki ragam gerak yang ekspresif dan dinamis, seperti Tari Topeng Kedok,

Enjot-enjotan dan Gegot. Tari-tarian tersebut bukan saja digemari oleh para pendukung aslinya, tetapi juga telah banyak mendapat tempat di hati masyarakat yang lebih luas, termasuk kelompok etnis lain.

Beberapa penata tari kreatif telah berhasil menggubah beberapa tari kreasi baru dengan mengacu pada ragam gerak berbagai tari tradisi Betawi, terutama rumpun Tari Topeng. Tari kreasi baru itu antara lain adalah Tari Ngarojeng, Tari Ronggeng Belantek, Gado-gado Jakarta. Karya tari ini ternyata mampu memukau penonton, bahkan juga sampai pada Forum Internasional . Berbagai seni pertunjukan tradisional Betawi telah berkembang sesuai dengan perkembangan jaman dan masyarakat pendukungnya serta merupakan daya pesona tersendiri pada wajah kota Jakarta Untuk dapat menikmati dan menilainya tiada cara lain yang lebih tepat kecuali menyaksikannya sendiri.

Sumber :
  • Dinas Kebudayaan & Permuseuman Pemerintah Propinsi DKI Jakarta -
  • Cokek dan Puisi Rumah Kawin, Kompas, Jum'at 25 Pebruari 2005
  • http://www.kebudayaan.depdiknas.go.id/
===============================
AKULTURASI CHINA BENTENG,
Wajah Lain Indonesia



TIDAK seperti China peranakan pada umumnya, Ong Gian (47) berkulit gelap. Sehari-hari ia bekerja sebagai petani di Neglasari, Tangerang. Selain itu, ia juga awak kelompok kesenian gambang kromong yang sering tampil di acara-acara hajatan perkawinan.
Nenek moyangnya adalah China Hokkian yang datang ke Tangerang dan tinggal turun- temurun di kawasan Pasar Lama. Mereka masuk dengan perahu melalui Sungai Cisadane sejak lebih 300 tahun silam.

China Benteng memang selalu diidentifikasi dengan stereotip orang China berkulit hitam atau gelap (seperti si Ucup dalam sinetron ”Bajaj Bajuri”), jagoan bela diri, dan hidupnya pas-pasan atau malah miskin. Sampai sekarang, ternyata mereka juga tetap miskin meski sudah jarang yang jago bela diri.



Insert Photo :
Fanny Fadillah, warga keturunan Tionghoa (Ibu Tionghoa, bapak Solok , Sumatera Barat), kecil di daerah Ketapang , Gajah Mada. Berhasil mendulang ketenaran melalui Sinetron "Bajaj Bajuri" sebagai tokoh Ucup. (sumber : Tabloid Nova No. 950/XIX 14 Mei 2006)






Meski ada beberapa yang sudah berhasil sebagai pedagang, sebagian besar China Benteng hidup sebagai petani, peternak, nelayan. Bahkan, ada juga pengayuh becak.

SEJARAH CHINA di TANGERANG

Sejarah China Tangerang memang sulit dipisahkan dengan kawasan Pasar Lama (Jalan Ki Samaun dan sekitarnya) yang berada di tepi sungai dan merupakan permukiman pertama masyarakat China di sana. Struktur tata ruangnya sangat baik dan itu merupakan cikal-bakal Kota Tangerang. Mereka tinggal di tiga gang, yang sekarang dikenal sebagai Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cirarab), dan Gang Gula (Cilangkap).Sayangnya, sekarang tinggal sedikit saja bangunan yang masih berciri khas peChinan.Bangunan tersebut banyak yang berubah menjadi toko dan pasar.

Pada akhir tahun 1800-an, sejumlah orang China dipindahkan ke kawasan Pasar Baru dan sejak itu mulai menyebar ke daerah-daerah lainnya. Menurut Tagara Wijaya, yang bernama asli Oey Tjie Hoeng (77), yang menjabat Ketua Umum Klenteng Boen Sen Bio (1967-1978), Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi (sistem barter) barang orang- orang China yang datang lewat sungai dengan penduduk lokal.

Mengenai asal-usul kata China Benteng, menurut sinolog dari Universitas Indonesia, Eddy Prabowo Witanto MA, tidak terlepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itu-sekarang sudah rata dengan tanah-terletak di tepi Sungai Cisadane, di pusat Kota Tangerang.

Pada saat itu, kata Eddy, banyak orang China Tangerang yang kurang mampu tinggal di luar Benteng Makassar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul, istilah "China Benteng".

Tahun 1740, terjadi pemberontakan orang China menyusul keputusan Gubernur Jenderal Valkenier untuk menangkapi orang-orang China yang dicurigai. Mereka akan dikirim ke Sri Lanka untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan milik VOC.

Pemberontakan itu dibalas serangan serdadu kompeni ke perkampungan-perkampungan China di Batavia (Jakarta). Sedikitnya 10.000 orang tewas dan sejak itu banyak orang China mengungsi untuk mencari tempat baru di daerah Tangerang, seperti Mauk, Serpong, Cisoka, Legok, dan bahkan sampai Parung di daerah Bogor.Itulah sebabnya banyak orang China yang tinggal di pedesaan di pelosok Tangerang-di luar peChinan di Pasar Lama dan Pasar Baru.

Meski demikian, menurut pemerhati budaya China Indonesia, David Kwa, mereka yang tinggal di luar Pasar Lama dan Pasar Baru itu tetap disebut sebagai China Benteng.Sebagai kawasan permukiman China, di Pasar Lama dibangun kelenteng tertua, Boen Tek Bio, yang didirikan tahun 1684 dan merupakan bangunan paling tua di Tangerang. Lima tahun kemudian, 1869, di Pasar Baru dibangun kelenteng Boen San Bio (Nimmala).Kedua kelenteng itulah saksi sejarah bahwa orang-orang China sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad silam.

Dalam penelitiannya, sarjana Seni Rupa dan Desain ITB Jurusan Desain Komunikasi Visual, Y Sherly Marianne, antara lain menyebutkan, sekitar 80 persen dari 19.191 warga Kelurahan Sukasari di Kotamadya Tangerang adalah orang China Benteng. Angka statistik April 2002 ini tidaklah mengherankan karena Pasar Lama masuk dalam wilayah Sukasari.Menurut Sherly, kehidupan masyarakat China Benteng memang keras agar bisa bertahan hidup. Sebab, sebagian besar pekerjaan mereka bukan dalam bidang ekonomi, tetapi sebagai petani di pedesaan.

Yang unik dari masyarakat China Benteng adalah bahwa mereka sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya, mereka sudah tidak dapat lagi berbahasa China. Logat mereka bahkan sudah sangat Sunda pinggiran bercampur Betawi. Ini sangat berbeda dengan masyarakat China Singkawang, Kalimantan Barat, yang berbahasa ina meskipun hidup kesehariannya juga banyak yang petani miskin.
Logat China Benteng memang khas. Ketika mengucapkan kalimat, "Mau ke mana", misalnya, kata "na" diucapkan lebih panjang sehingga terdengar "mau kemanaaaa".

GAMBANG KROMONG

Di bidang kesenian, mereka memainkan musik gambang kromong yang merupakan bentuk lain akulturasi masyarakat China Benteng. Sebab, gambang kromong selalu dimainkan dalam pesta-pesta perkawinan, umumnya diwarnai tari cokek yang sebenarnya merupakan budaya tayub masyarakat Sunda pesisir seperti Indramayu.

Meski demikian, masyarakat China Benteng masih mempertahankan dan melestarikan adat istiadat nenek moyang mereka yang sudah ratusan tahun. Ini terlihat pada tata cara upacara perkawinan dan kematian. Salah satunya tampak pada keberadaan "Meja Abu" di setiap rumah orang China Benteng.

"Tidak usah dipertentangkan. Realitasnya, masyarakat China Benteng memang sudah berakulturasi dengan lingkungan lokal, tapi mereka juga masih memegang adat istiadat kepercayaan nenek moyang dan leluhur mereka," kata Eddy.

Beberapa tradisi leluhur yang masih dipertahankan antara lain Cap Go Meh (perayaan 15 hari setelah Imlek), Pek Cun, Tiong Ciu Pia (kue bulan), dan Pek Gwee Cap Go (hari kesempurnaan).
Demikian pula panggilan encek, encim, dan engkong masih digunakan sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua.

"Juga salam (pai) tetap dipertahankan dalam keluarga China Benteng pada saat bertemu dengan orang lain," kata Asiuntapura Markum (55) yang lahir di Tangerang.

Yang khas dari masyarakat China Benteng adalah pakaian pengantin yang merupakan campuran budaya China dan Betawi. Pakaian pengantin laki-laki, kata Eddy, merupakan pakaian kebesaran Dinasti Ching, seperti terlihat dari topinya, sedangkan pakaian pengantin perempuan hasil akulturasi China-Betawi yang tampak pada kembang goyang.

EKONOMI MASYARAKAT CINA BENTENG

SECARA ekonomi, masyarakat tradisional China Benteng hidup pas-pasan sebagai petani, peternak, nelayan, buruh kecil, dan pedagang kecil.
Ny Kenny atau Lim Keng Nio (48) yang tinggal di Gang Cilangkap RT 03 RW 02, Kelurahan Sukasari, Tangerang, misalnya, setiap hari harus bangun pagi-pagi untuk membawa dagangan kue ke pasar. Ong Gian, petani sawah di Neglasari yang nyambi menjadi pemain musik gambang kromong, juga harus bekerja keras untuk bisa mempertahankan hidup.

Fenomena China Benteng, kata Eddy, merupakan bukti nyata betapa harmonisnya kebudayaan China dengan kebudayaan lokal. Lebih dari itu, keberadaan China Benteng seakan menegaskan bahwa tidak semua orang China memiliki posisi kuat dalam bidang ekonomi. Dengan keluguannya, mereka bahkan tak punya akses politik yang mendukung posisinya di bidang ekonomi.

David Kwa lebih melihat fenomena China Benteng sebagai contoh dan bukti nyata proses pembauran yang terjadi secara alamiah. Masyarakat China Benteng hampir tidak pernah mengalami friksi dengan etnis lainnya. Kenyataan ini membuat David yakin, persoalan sentimen etnis lebih bernuansa politis yang dikembangkan oleh orang-orang yang punya kepentingan politik.
Realitas China Benteng yang tinggal di pusat kekuasaan politik dan ekonomi menunjukkan, masyarakat etnis China sesungguhnya sama dengan etnis lainnya. Ada yang punya banyak uang, tetapi ada pula yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Bahkan, Ridwan Saidi, pengamat budaya dari Betawi, melihat realitas China Benteng sebagai wajah lain Indonesia. Ada yang kaya, tetapi tidak sedikit pula yang miskin.
Bagi mereka, wajar kalau perayaan Tahun Baru Imlek menjadi pengharapan agar rezeki di tahun baru ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Wajar pula bahwa meski sudah berakulturasi begitu dalam, mereka tetap membeli bunga sedap malam dan bersembahyang di kelenteng-kelenteng. (Robert Adi KSP)

Sumber : Harian Kompas, 3 Februari 2003


===========================
Sisi Lain China Benteng



Penyaluran subsidi langsung tunai atau BLT sebesar 300 ribu Rupiah untuk keluarga miskin banyak menuai masalah. Mulai dari penyaluran yang tidak tepat sasaran hingga jual beli kartu miskin. Masyarakat yang merasa diperlakukan tidak adil melakukan protes dengan merusak kantor kelurahan. Bahkan mengancam ketua RT setempat dan petugas BPS.

Pemerintah kemudian memutuskan meninjau kembali BLT dengan cara mendata ulang keluarga miskin. Meski dilakukan peninjauan ulang, masih ada yang luput dari perhatian. Seperti yang terjadi di kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Tangerang, Banten. Sebagian warganya adalah keturunan Tionghoa yang dikenal dengan sebutan China Benteng. Bisa dibilang kehidupan sehari-hari mereka sangat sederhana.

Meski tergolong kaum minoritas di Indonesia, mereka tak mendapatkan BLT, padahal kondisi ekonominya sangat pas-pasan. Alasannya, tidak memiliki KTP, SBKRI bahkan akte kelahiran. Padahal mereka tinggal bahkan lahir di daerah ini. Nasib pahit ini salah satunya menimpa keluarga Kwe Wan Nio, yang tinggal di bantaran kali. Ia bersama sekitar 200 kepala keluarga lainnya, sebagian besar hidup serba kesulitan.

Perempuan setengah abad yang lahir di Dadap ini harus rela menerima gelar sebagai China Benteng, yang identik dengan ekonomi miskin. Sudah sepuluh tahun lebih perempuan ini menjadi kepala keluarga menghidupi 4 anaknya dengan bekerja sebagai pemulung. Sang suami sudah lama menderita depresi, bersama ke 4 anaknya Kwe Wan Nio tinggal berbaur bersama China Benteng lainnya dengan menempati lahan milik PT Angkasa Pura, yang sewaktu-waktu siap untuk hengkang jika sang pemilik akan membongkar rumahnya.

Sampai sekarang Kwe Wan Nio dan keluarganya tidak memiliki kartu tanda penduduk, apalagi Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). Bagi Kwe Wan Nio, uang hasil jerih payah sebagai pemulung tentunya lebih baik dipakai untuk makan bersama keluarga daripada untuk mengurus KTP atau SBKRI yang baginya memakan biaya sungguh mahal.

Kwe Wan Nio hanya bisa mengelus dada melihat tetangga kampung berbondong-bondong menuju kantor pos untuk menerima subsidi BBM. Bahkan kartu sehat juga tak didapatnya. Hanya sekolah gratis bagi anaknya yang saat ini duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri. Sikap protes kepada Ketua RT setempat telah diupayakan bersama keluarga lain yang tidak mendapatkan BLT. Namun hingga saat ini belum ada jawaban pasti apakah tahap kedua nanti mereka dapat menerima BLT atau tidak.

Berbeda dengan keluarga Kwe Wan Nio, keluarga Sumidah mendapat bantuan langsung tunai 300 ribu Rupiah. Namun, bantuan tersebut dirasa Sumidah tak cukup untuk menghidupi ke 8 anaknya yang masih kecil. Apalagi kondisi suaminya yang sakit sakitan. Keinginan Sumidah hanya satu, mendapatkan kartu sehat, sehingga bisa membawa suaminya yang sudah bertahun tahun sakit parah ke rumah sakit.

Permohonan bantuan kepada kepala desa setempat telah diupayakan, namun hingga kini kartu sehat belum diterimanya. Walau berat menanggung beban hidup, semangatnya untuk mencari nafkah tidak membuat Sumidah surut. Ia terus saja mengumpulkan mainan anak yang ditemukannya di tempat sampah. Dari usahanya ini, pendapatannya paling banter 5 ribu Rupiah selama seminggu.

Wajah gembira terpancar dari raut muka Sumidah, Kwe Wan Nio atau ibu-ibu lainnya warga kelurahan Kosambi, disaat ada uluran tangan dari para dermawan. Hanya dengan bantuan berupa sembako seperti inilah yang kadang mereka dapatkan untuk menopang hidup bersama keluarga. Meski begitu, mereka tak berpangku tangan, do'a selalu mereka panjatkan dengan harapan agar hidup lebih baik esok hari.

Sumber : TV Indosiar, Tayang : 2 November 2005, pukul 12.00 WIB (HORISON)

===========================
”Kami Orang Indonesia Asli"


DI sebuah sudut Kota Tangerang, warga Pecinan Pasar Lama merayakan HUT ke-60 kemerdekaan Indonesia, dengan perasaan yang benar-benar merdeka. Berbagai lomba digelar untuk anak-anak maupun dewasa. Anak-anak berlomba di lapangan, sementara sebagian pria dewasa, berkumpul di kelenteng bersembahyang dan mengadakan pertandingan catur.

Suasana meriah menyambut kemerdekaan RI itu memang terasa berbeda sejak berlangsungnya reformasi. Berbagai kegiatan budaya dan keagamaan yang sebelumnya dilakukan sembunyi-sembunyi, kini sudah terbuka.

Tak jarang berbagai pertunjukan budaya justru dipertontonkan ke masyarakat luas. Kendati sekarang ini ada yang merasakan kesakralan seni budaya, seperti Barongsai dan Liong, mulai berkurang karena digunakan untuk mengamen di jalanan.

"Sejak reformasi, kami bisa merasakan arti kebebasan. Masyarakat Tionghoa di sini tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk melakukan kegiatan agama maupun budaya," ujar Oey Tjing Eng (62) tokoh masyarakat Tionghoa Tangerang atau yang dikenal sebagai China Benteng kepada Pembaruan, Rabu (17/8).

Melihat postur Tjing Eng, yang juga dikenal sebagai budayawan yang aktif di kelenteng Boen Tek Bio di Jl Ki Samaun, kita mungkin tidak yakin kalau dia seorang keturunan Tionghoa. Kulitnya hitam, matanya tidak sipit. Gaya bicaranya juga seperti warga Tangerang umumnya.
Tipikal China Benteng ini memang berbeda jauh dengan warga Tionghoa di daerah lain, yang masih mewarisi ciri berkulit putih dan bermata sipit. Tak heran Tjing Eng menyebut mereka ini Indonesia asli.

"Kami ini Indonesia asli karena yang melekat di tubuh kami ada juga keturunan Indonesianya," ujarnya.

Menurut Tjing Eng, mereka sebenarnya enggan disebut sebagai warga keturunan, karena apa yang melekat pada diri mereka sekarang ini adalah apa yang juga ada pada masyarakat Indonesia umumnya. Mereka juga berharap, mempunyai hak yang sama sebagai bangsa Indonesia. Jadi, jika memungkinkan, bagi warga China Benteng, tidak ada lagi syarat yang disebutkan dalam undang-undang dasar, misalnya untuk menjadi pemimpin harus Warga Negara Indonesia asli.
"Sekali lagi, kami ini Indonesia asli," ujar Tjing Eng.

Cikal Bakal

Tidak semua orang China Benteng berprofesi sebagai pedagang yang hidupnya berkecukupan. Banyak juga yang bekerja sebagai petani, nelayan, bahkan tukang becak, yang hidupnya miskin dan sederhana. Umumnya mereka ini mendiami kawasan utara di sekitar Teluknaga dan Kosambi.

Dalam buku Ziarah Budaya Kota Tangerang yang ditulis Wahidin Halim, Walikota Tangerang, disebutkan, pada akhir tahun 1800 sejumlah orang Tionghoa dipindahkan ke kawasan Pasar Baru, Tangerang dan sejak itu mulai menyebar ke daerah-daerah lain. Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi orang-orang Tionghoa, yang datang lewat sungai, dengan penduduk lokal.

Orang Tionghoa ini juga sudah beralkulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, seperti yang diucapkan Tjing Eng, tidak lagi menggunakan Bahasa China. "Sebagian kami tidak bisa berbicara atau menulis Bahasa China," ujarnya.
Di bidang kesenian, mereka memainkan musik gambang kromong yang merupakan bentuk lain akulturasi masyarakat China Benteng. Sebab, gambang kromong selalu dimainkan dalam pesta-pesta perkawinan dan dimeriahkan pula dengan penampilan tari cokek, yang sebenarnya merupakan budaya tarub masyarakat Sunda pesisir, seperti Indramayu.

Fenomena China Benteng merupakan bukti nyata betapa harmonisnya kebudayaan China dengan kebudayaan lokal. Lebih dari itu, keberadaan China Benteng menegaskan tidak semua orang Tionghoa memiliki posisi kuat dalam bidang ekonomi, bahkan tak punya akses politik yang mendukung posisinya di bidang ekonomi.

Sumber : Harian Suara Pembaruan, 17 Agustus 2005

(Kiriman : Pandji Kiansantang, Jakarta, 11 Mei 2006, Email : pandji.kiansantang@XXX.com)






Editorial





Memperingati Hari Kebangkitan Nasional 2006


Sesuai dengan tema kita kali yang mencoba mengusung Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei 2006 kemarin, rasanya tidaklah berlebihan jika kita coba sedikit mengkritik diri kita sendiri sebagai bangsa Indonesia. Bangsa yang besar adalah bangsa yang membuka diri terhadap kritikan. Kritikan haruslah dianggap sebagai kripik bervitamin yang dapat menyehatkan tubuh bangsa kita yang besar ini.

Kritikan bisa saja datang dari mana saja. Kritikan haruslah didasari karena kita ingin membangunkan Indonesia dari keterpurukan yang rasanya sudah berlangsung sekian lama tanpa ada titik terang yang melegakan.

Di negara lain mungkin krisis senantiasa melahirkan momentum perubahan dan perbaikan, serta melahirkan formulasi sosok kepemimpinan seperti apa yang manjur. Tapi mungkin kita memang berbeda. Mungkin salah kita sendiri karena menganut pepatah : Lain ladang lain belalang lain lubuk lain ikannya. Sudah terjadi empat pergantian kepemimpinan selama delapan tahun reformasi berjalan (dihitung dari era Soeharto yang berakhir Mei 1998) tetapi sepertinya kita belum juga bisa belajar dari kesalahan. Setelah delapan tahun rasanya belum juga muncul desain tentang Era Indonesia Baru yang lebih baik.

Tapi skeptis adalah kabar buruk. Ketika banyak bangsa kita di masa sebelum 17 Agustus 1945 yang merasa skeptis bahwa kemerdekaan adalah utopia, atau bahkan setelahnya ; kemunduran Suharto adalah hal yang tidak mungkin terjadi, toh semua itu terjadi juga. Karena sikap skeptis dan pesimis sama saja dengan lelehan air mata putus asa yang bisa mendorong timbulnya apatisme. Apatisme dapat menimbulkan sikap apriori, iri hati dan frustrasi terhadap pemerintahan yang ada. Keadaan ini jika dibiarkan terus menerus bisa menggerus resistansi bangsa ini.

Celah-celah ini kadang kala terlupakan oleh kita dan bisa dimanfaatkan oleh "oknum" bangsa sendiri atau dari luar yang memiliki niat tertentu terhadap bangsa ini. Terorisme, kerusuhan, amuk masa, pembantaian etnis atau umat agama tertentu contohnya. Tindakan anasionalis seperti ancaman pemisahan diri sebagian warga Bali yang disponsori oleh seniman pro pornografi dan pornoaksi serta permintaan suaka politik dari warga Papua juga bisa dilihat sebagai pemisalan.

Jadi mari kita kedepankan sikap optimisme bangsa. Jangan hanya cukup berhenti hanya pada ide atau gagasan saja.Tapi mari bersama kita kawal reformasi dengan (seperti istilah Aa Gym) : luruskan niat, sempurnakan ikhtiar, terakhir bertawakallah kepada Allah. Sehingga apa yang kita cita-citakan yang salah satu di antaranya adalah : terjadinya proses pertumbuhan kepribadian yang lebih baik pada diri birokrat sampai dengan rakyat menjadi hal yang bukan utopia.

========


DISIPLIN:
SEBUAH GERAKAN BUDAYA

Oleh : Mohammad Wildan Hambali


Kita adalah apa yang kita kerjakan berulang-ulang
Karena itu , keunggulan bukanlah suatu perbuatan,
melainkan sebuah kebiasaan
(Aristotle)



"Mari pak, naik pak, lewat kota pak, langsung, tidak lewat Slipi, ya ,pak.."
Demikian kalimat supir bus Damri jurusan Bandara Soekarno Hatta - Gambir pada pagi itu (9/5) memberi ajakan sekaligus penjelasan kepada setiap penumpang yang menghampiri pintu busnya di bandara Soekarno Hatta. Segera penumpang yang tadinya hanya sekitar 3 orang langsung mendadak menjadi 12 orang termasuk saya yang duduk di dekat kaca samping kanan 2 bangku di belakang supir. Kenapa si Supir tidak lewat Slipi? Bukankah itu jalur yang biasa dilewati Bus Damri jurusan Soekarno-Hatta-Gambir, tanya saya dalam hati.

"Begini , Pak. Ini kan masih pagi sekali, sekitar Pukul 7.00, biasanya tol yang lewat Slipi itu macet sekali. Sementara penumpang sedikit. Jadinya tahulah, saya rugi kalau lewat sana. Lebih baik saya cepat sampai Gambir, dari sana mudah-mudahan banyak penumpang yang bisa saya angkut," begitu kira-kira penjelasan Si Supir kepada penumpang yang duduk tepat di belakangnya.
Oh, begitu dalam hati saya. Akal-akalan juga. Demi keuntungan pribadi ia berusaha melanggar jalur bus yang sudah ditetapkan perusahaan. Padahal besar kemungkinan ia akan bertemu dengan petugas jalan raya. Tapi apa lacur, jika seandainya ia ketahuan pun dan distop, paling ia turun dari mobil sambil berusaha memberi sejumlah argumentasi. Dan Ketika kemudian si petugas tetap ingin menilangnya, muncullah apa yang dinamakan UAB alias UAng Abis Perkara. Nama alias lainnya adalah Uang Sogok, Uang Suap, Uang Pungutan. What's the name, lah.

Mungkin anda juga sering mendengar istilah "uang mel". Uang mel ini sering diberikan kepada petugas yang sedang berdiri di perbatasan kota atau kabupaten. Jika ada mobil box, taxi ,mobil travel, atau mobil jasa lainnya yang melewati perbatasan kota tersebut biasanya mereka sudah mengerti dengan sendirinya. Seketika tangan si supir menjulur dari kaca depan sebelah kanan, seketika juga uang disambar. Maka selamatlah si sopir, tanpa harus ditanya segala tentang surat jalan, invoice atau faktur yang berisi keterangan tentang barang yang diangkut.

Begitulah. Itulah sekelumit contoh peristiwa di negeri akal-akalan ini. Semua bisa diatur, begitu kata seorang mantan menteri kita di era Soeharto. Dari kejadian di atas bisa kita lihat siapa yang akal-akalan. Si supir atau si petugas? Hati nurani kita pasti menjawab cepat : Dua-duanya! Kenapa?

Mental Menerobos

Akal-Akalan sebagai pemecahan dari suatu masalah yang tercipta dari pelanggaran atas peraturan yang sudah kita tetapkan, bahkan seringkali sudah tersusun sebagai suatu produk hukum tidak bisa dianggap sebagai sikap "kreatif". Sebab sikap mental yang suka menerobos (menerabas) norma-norma hukum tentulah bukan sikap mental yang terpuji. Dan hal ini bisa menjadi kebiasaan yang akan terus menerus terulang sehingga membuat kita memiliki karakter yang cenderung permisif dan abai.Karakter yang cenderung permisif dan abai ketika menghadapi suatu masalah yang kita anggap kecil tanpa disadari memicu munculnya masalah yang lebih besar.

Masalah penting yang kita hadapi kini tidak dapat kita pecahkan pada pada tingkat berfikir yang sama seperti kita menciptakan masalah tersebut. (Albert Einstein)

Professor Koentjaraningrat seorang pakar antropologi di dalam bukunya Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, salah satu kelemahan dari sifat mental bangsa Indonesia sesudah revolusi adalah apa yang disebutnya sebagai sifat mental menerabas. Yang dimaksud dengan sikap mental menerabas itu ialah nafsu untuk mencapai tujuan secepat-cepatnya tanpa banyak kerelaan berusaha dari permulaan secara selangkah demi selangkah.Sifat mental tersebut sejalan dengan sifat-sifat negatif lainnya, seperti sering melanggar disiplin, suka mengabaikan tugas, serta meremehkan mutu pekerjaan.
Buku ini adalah hasil studinya yang mendalam terhadap kenyataan dalam masyarakat Indonesia sejak hampir tiga dasawarsa yang lalu. Namun melihat fenomena di atas kita melihat bahwa gejala tersebut tidak berkurang bahkan makin mengakar.

Sifat menerabas itu sekarang terlihat dari kebiasaan banyak orang yang ingin mendapatkan sesuatu dengan jalan pintas, tanpa memperdulikan aturan-aturan dan prosedur yang sudah disepakati, menabrak rambu-rambu sehingga menciptakan kondisi "tanpa etika" dan "tanpa hukum"

Kita mungkin bisa melihat perilaku sebagian elit politik kita yang cenderung "oportunitis" dalam mencari peluang tanpa menghiraukan cara-cara yang sopan dan legal, sehingga dapat merugikan rakyat banyak. Ketika menghadapi suatu masalah, perilaku ancam -mengancam menjadi hal yang lumrah, keras dibalas keras menjadi pemandangan sehari-hari. Bahkan itu terjadi juga di kalangan sesama elit politik itu sendiri. Mungkin jika dilihat dari aspek demokrasi barat itu hal biasa dan sah-sah saja. Tapi jika dilihat dari segi moral dan etika itu menunjukkan kekerdilan jiwa dan kelemahan akal. Sikap orang yang sehat akalnya tentulah jika menghadapi masalah selalu mendahulukan sikap lapang dada, penuh wawasan, cerdas tanpa harus menonjolkan nafsu menang semata.

Dalam bidang ekonomi tumbuh subur praktek-praktek korupsi, kolusi, sogok dan nepotisme untuk melicinkan jalan kepada tujuan yang diinginkan. Segala cara dipandang halal (machiavelisme) , sehingga batas -batas halal-haram, legal illegal, etis non etis, bahkan manusiawi-non manusiawi menjadi semakin kabur.Sifat jujur, naif, lugu, terus terang, malah menjadi suatu sifat yang harus dimarjinalkan.Hal ini akhirnya menjadi suatu tragedi kehidupan, seperti yang pernah disitir oleh seorang Filsuf Yunani, Plato :
"We can easily forgive a child who is afraid of the dark. The real tragedy of life is when a men are afraid of the light."

Dalam bidang penegakan hukum (Law Enforcement) tak lebih dari retorika belaka dan permainan kata-kata yang jauh dari dambaan para pencari keadilan. Hukum masih sering berfihak kepada elit kekuasaan dan kekuatan.

"(Soal) penegakan hukum mengganggu sekali. Sekarang ini rakyat kecil sudah faham jika penegakan hukum diskriminatif dan tebang pilih. Di tingkat yang lebih tinggi, teman-teman yang ikut mendukung (pemerintahan sekarang), (ikut) berkampanye, tidak disentuh. Tetapi yang lain-lain dikejar-kejar. Saya kira DPR pun 'idem dhito" (dengan pemerintah)." kata Prof Dr. Mohammad Amien Rais, sang "Lokomotif Reformasi" dalam wawancaranya di harian Kompas, Sabtu kemarin.

Pelanggaran HAM masih terjadi di mana-mana tempat dan berbagai sektor kehidupan rakyat , dari cara yang sangat kasar sampai kepada cara-cara yang sangat halus dan terselubung. Sebuah lembaga bentukan pemerintah Le atau Tim Pencari Fakta ternyata perannya dalam mengungkap masih jauh panggang dari api. Ini terbukti dari banyaknya kasus-kasus pelanggaran HAM yang aktor intelektualnya tetap tidak tersentuh pengadilan seperti kasus Tanjung Priok, Aceh, Ambon, Poso, kasus Mei 1998, dan lain-lain. Ini mungkin karena Political Will pemerintah yang masih bersifat Lips Service alias basa basi saja.Atau mereka mungkin masih disibuki oleh perebutan "harta warisan" dari sistem yang manipulatif dari rezim yang lama.

Ada juga pelanggaran HAM rakyat secara halus dan terselubung itu misalnya perampasan hak-hak rakyat untuk mendapatkan perlindungan dan rasa aman, hak mendapatkan kelayakan hidup sebagai manusia, dan hak untuk mendapatkan tarif harga kebutuhan pokok seperti sembako, listrik, air, minyak tanah, dll, yang layak dan terjangkau oleh kemampuan daya beli rakyat yang mayoritas hidup dalam kemiskinan.

Di bidang budaya ,budaya materialis sepertinya sudah semakin menggerus budaya asli kita yang luhur dan beradab. Kebanyakan orang sekarang lebih akrab dengan budaya global dan budaya kontemporer. Arus budaya hedonistik yang disebut trend busana yang muncul belakangan ini cenderung tidak berpijak pada jati diri bangsa. Para pemuja budaya globalistik ini biasanya para kaum remaja yang selalu ingin menjadi pusat perhatian sesuai dengan psyche (suasana jiwa) saat itu. Dan jika tidak mengikuti trend, mereka takut dianggap bukan anggota kelompok (peer group) atau takut dibilang "gak gaul". Sebagai contoh ; di jalan, di kampus, di mall atau dimana saja kita semakin sulit mengidentifikasi dari mana seseorang berasal, apa dari Indonesia atau bukan, dari suku Jawa, Menado atau Sunda, misalnya, jika kita hanya melihat dari gaya dan caranya berpakaian. Kaus ketat sepusar, rambut dicat, celana melorot sepinggul (model hipster), anting sebelah, diantaranya, adalah ciri dekadensi budaya. Atau mungkin ini malah semacam "syndrome" krisis nasionalisme ? Seorang teman bergurau, mungkin seandainya saja ada yang menawari mereka semacam "Green Card" atau "suaka politik" gratis mungkin tanpa ba bi bu mereka langsung mengiyakan. Gurauan ini mungkin kedengarannya agak kasar, tapinya rasanya tidak terlalu berlebihan dalam memperlihatkan kondisi yang ada sekarang ini.



Insert Photo :

Trend busana yang tidak berpijak pada jati diri bangsa
(Sumber : Kompas, Minggu 19 Februari 2006)













Selain itu, kita ketahui sudah banyak bangunan candi yang rusak dan tidak terurus.Atau malah ada bagian-bagiannya yang dipreteli untuk diperjual belikan di pasar gelap. Dipamerkan di eksibisi luar negeri, menjadi koleksi museum terkenal di mancanegara atau malah berakhir di tangan para kolektor Seni.

Seni tari atau seni drama kita yang tidak laku dijual bahkan sudah banyak yang mati dan dilupakan orang. Ironisnya, mungkin suatu saat ada orang asing yang kebetulan melihatnya, tertarik untuk "memungutnya", kemudian membawa pulang kenegerinya. Pada suatu saat ketika dipagelarkan di sana, kita mungkin harus bayar tiket untuk menontonnya. Termasuk biaya passport dan tiket pesawat.

Di bidang moral dan akhlak, penyakit arogansi, irihati, dendam dan serakah semakin berjangkit di dalam masyarakat. Sehingga terjadilah tuntutan, hujatan, amuk masa seperti yang baru-baru ini terjadi di Tuban, dan segala sumpah serapah berbagai lapisan, ibarat "maling teriak maling". Sementara itu dalam situasi semacam itu banyak pula yang menangguk di air keruh. Korupsi dan manipulasi jalan terus. Mereka menggunakan kesempatan dalam kesempitan dan bergaya hidup "aji mumpung".

Penumbuhan Disiplin

Profesor Koentjaraningrat yang juga pendiri Jurusan Antropologi Universitas Indonesia dan Mohtar Lubis seorang jurnalis Indonesia sepakat mengatakan bahwa manusia Indonesia itu tidak berdisiplin murni. Dan sifat mental menerabas memang berpangkal dari ketidaksabaran dan lemahnya pengendalian diri, sehingga memunculkan tindakan indisipliner (tidak disiplin) sehingga melanggar norma-norma hukum serta norma-norma sosial yang berlaku.

Disiplin menunjukkan keunggulan, sekalipun disiplin itu bermacam-macam, menurut Darmanto Jatman psikolog dan budayawan dalam sebuah buku Tanggung Renteng. Kebiasaan ini kelihatannya sepele tetapi hasilnya bisa jadi revolusioner. Disiplin berdimensi sosial dan kultural. Seperti mengajarkan seorang anak kecil agar memiliki kultur sekolah dan rajin belajar, Seringkali disiplin harus ditumbuhkan dengan hukuman.

Seperti cerita tentang Pangeran Hamburg yang mendapat perintah dari Kaisar Jerman memimpin pasukan ke medan perang. Ia mendapat instruksi untuk tidak menyerang lawan. Pada awalnya ia patuh. Tetapi ketika ia mendapat peluang menyerang, Hamburg mengabaikan istruksi Kaisar, dan langsung memimpin penyerangan. Ternyata ia memperoleh kemenangan.

Sepanjang perjalanan kembali ke istana, Hamburg dan pasukan yang menang perang itu dielu-elukan rakyat atas keberanian dan kehebatannya. Ia bangga sekalipun telah melanggar aturan.

Kaisar mengetahui pelanggaran atas titahnya. Namun ia tidak mau menjatuhkan hukuman ketika rakyat banyak mengelu-elukan kemenangan dan merayakan kemenangan Hamburg. Rakyat yang kagum pada Hamburg tentu berbalik marah pada kaisar.

Oleh karena itu kaisar memutuskan tidak langsung menghukum Hamburg, namun justru memberi penghargaan dengan mengangkatnya sebagai putra mahkota. Keesokan harinya barulah hukuman dilaksanakan. Ia mendapat hukuman mati.

Ada cerita lainnya. Sun Tzu, adalah panglima jenderal Tiongkok yang lihai pada zamannya. Ia banyak menulis buku tentang strategi perang, yang menjadi best seller pada zaannya.Bahkan sampai sekarang masih dibaca orang.Kaisar China sangat terkesan oleh kepiawaian sun Tzu sehingga memberi tugas kepadanya untuk mendisiplinkan 150 selir kaisar. Sun Tzu bersedia melakukan titah Kaisar dengan memberikan wewenang penuh kepadanya untuk melakukan apa saja yang dianggapnya perlu.Kaisar yang merasa pusing dengan tingkah selirnya, tak keberatan dengan syarat yang diminta Sun Tzu.

Sun Tzu berpendapat bahwa disiplin bisa ditanamkan melalui pelajaran baris berbaris. Ia pun tahu bahwa mengajar 150 orang selir sekaligus untuk baris berbaris adalah tragedi. Ia lalu memilih tiga orang selir yang paling dikasihi Kaisar. Ketiga orang itulah yang kemudian dididiknya secara khusus untuk menjadi pelatih baris berbaris.

Setelah dianggapnya cukup, ketiga selir itu dimintanya melatih pasukan selir yang telah dibagi menjadi tiga kelompok. Dapat diduga, acara itu segera berubah menjadi kekacauan besar. Ketiga pelatih maupun peserta hanya cekikikan di lapangan, dan mereka sengaja membuat kesalahan-kesalahan untuk meledakkan tawa yang lebih besar.

Melihat kekacauan ini, Sun Tzu membubarkan barisan dan memberi bimbingan dengan lebih rinci,lebih lambat dan jelas kepada ketiga komandan. Latihan baris berbaris pun dimulai lagi. Yang terjadi bukannya disiplin, melainkan kekacauan.

Sekali lagi Sun Tzu membubarkan barisan dan memberikan latihan khusus sekali lagi kepada tiga komandan sambil menanyakan apakah ada yang kurang rinci atau kurang jelas dari pelajarannya. Ternyata tak ada yang bertanya. Ketiganya menyatakan bahwa baris-berbaris adalah urusan gampang.Mereka juga meremehkan Sun Tzu sambil menyanggupi bahwa esok pasti pelajaran baris berbaris akan berjalan lancar.

Esoknya, kekacauan tejadi lagi. Sun Tzu mengumpulan ketiga selir utama setelah membubarkan barisan. Menurut Sun Tzu, seseorang melanggar perintah pimpinan karena ia tidak tahu tujuan dari perintah tersebut. Jika tujuan jelas, namun masih terjadi pelanggaran mungkin instruksinya yang tidak jelas. Jika tujuan dan instruksinya jelas, namun pelanggaran masih berlangsung juga, maka pimpinannyayang tidak becus. Pimpinan itulah yang harus diberi sanksi.

"Nyonya-nyonya, berdasarkan teori siasat saya , bila tiga kali berturut-turut suatu hal gagal dilakukan, maka orang yang gagal itu harus dihukum pancung. Karena itu besok di hadapan seluruh selir Kaisar, saya akan melaksanakan hukuman itu.

Ketiga selir itu melapor pada kaisar. Kaisar menjelaskan kepada Sun Tzu bahwa ketiga selir itu adalah selir kecintaannya. Sun Tzu justru berkata, "Justru karena itu Baginda harus memberi saya izin untuk menghukum ketiga komandan yang gagal itu." Akhirnya, kepala tiga selir itu dipenggal. Dan Sun Tzu berhasil. Kaisar kini tak pusing lagi dengan soal kedisiplinan para selirnya. Ia memang kehilangan 3 selir yang paling dikasihinya. Tapi kini ia memiliki 147 selir yang jauh lebih dikasihinya.
















Insert Photo :

Rutinitas keseharian dan perilaku ketidaksabaran dapat membuahkan tindakan indisipliner yang bisa membahayakan keselamatan pribadi maupun orang lain. Sepertinya kecelakaan Kereta Api yang kerap terjadi tidak mengakibatkan jera para penumpangnya yang sampai memenuhi atap.
(Sumber : Kompas, 20 Mei 2006)




Disiplin memang bukan hanya tepat waktu. Selain memiliki dimensi sosial dan kultural ia juga memiliki bentuk yang berbeda-beda. Ada disiplin mati tanpa toleransi dan berorientasi pada hasil seperti yang dilakukan Sun Tzu. Ada disiplin yang "according to the book" seperti yang dilakukan kaisar terhadap Hamburg. Namun ada pula disiplin yang kontekstual mengacu pada budaya suatu komunitas yang mengenal toleransi, dilakukan secara bertahap.

Sebuah pohon sebesar Anda bermula dari biji yang kecil; perjalanan sejauh seribu mil berawal dari sebuah langkah kecil. (Lao tse)

Disiplin kontekstual ini dimulai dari lingkungan yang paling inti, kemudian diperluas, diperluas lagi hingga nilai itu benar terinternalisasidi setiap bangsa kita. Ketika lingkungan yang lebih luas merasakan manfaat disiplin, maka saat itulah disiplin menjadi gerakan budaya dan dilakukan secara otomatis. Marilah kita mulai dari lingkungan terdekat kita yaitu diri kita sendiri. meluas ke keluarga kita, kemudian RT , RW sampai ke petugas dan para pemimpin kita.


Mungkin sebagai contoh, jika ingin berkendara, jangan lupa untuk membawa surat-surat berkendara yang lengkap. Dan kalau memang lupa atau memang kebetulan kita melanggar aturan lalu lintas yang lain, jangan sungkan untuk meminta surat tilang dan membayar denda sesuai ketentuan yang berlaku .


Sumber :
  • Sosok dan Pemikiran : Kita Masih Berada di Terowongan Yang Gelap, Wawancara dengan Prof. DR. Mohammad Amien Rais, Kompas, Sabtu, 20 Mei 2006
  • Seratus Kiat 2: jurus Sukses Kaum Bisnis, Bondan Winarno, Pustaka Utama Grafiti, 1989
  • Kelangkaan BBM dan kemunduran Budaya,Adriani S Soemantri, Kompas, Sabtu, 13 Agustus 2006
  • 7 Habits Highly Effective People, Stephen R Covey, Binarupa Aksara, 1997
  • Sifat Mental Menerabas, Buletin Dakwah, 10 Agustus 2001
  • Marilah Mulai Melihat dari Yang Kecil, Khairina, Kompas, Sabtu, 20 Mei 2006.
  • Menuju "Civil Society", Kompas, Minggu, 19 Februari 2006.
=========================
PENGEMUDI UGAL-UGALAN ,
Paling Dibenci Orang Indonesia














Keterangan Photo :

NEKAT Terobos - Sejumlah pengendara sepeda motor serta pengemudi bajaj dan mikrolet nekat menerobos pintu perlintasan kereta api di Jalan Pisangan, Jakarta Timur. Tindakan ugal-ugalan tersebut membahayakan diri sendiri, penumpang, dan pengendara lainnya.




JAKARTA - Apa yang paling dibenci orang Indonesia? Ternyata dari hasil survei khusus yang dilakukan Reader's Digest, sebuah penerbit global terkemuka, orang Indonesia paling benci dengan pengemudi yang menjalankan kendaraannya secara ugal-ugalan.

Selain itu, kemacetan lalu-lintas, ketidakjujuran, janji yang tidak ditepati, dan kenaikan harga BBM, merupakan hal yang paling menjengkelkan atau mengesalkan dalam kehidupan sehari-hari bagi orang Indonesia.

Hal itu disampaikan Pemimpin Redaksi Reader's Digest Indonesia Widarti Gunawan dalam siaran persnya, Kamis (5/1).

Menurut Widarti, survei itu dilakukan pada September sampai Oktober 2005 terhadap 3.600 responden di seluruh Asia, dengan masing-masing 400 responden dari Thailand, Filipina, Cina, Malaysia, Taiwan, Hong Kong, Korea Selatan, Singapura, dan Indonesia.

Responden itu dibagi dalam tiga kelompok usia, yakni 18 tahun sampai 34 tahun, 35 tahun sampai 50 tahun, dan di atas 50 tahun. Responden diminta menilai 20 hal yang biasanya mengesalkan dengan skala berjenjang, yakni sangat mengesalkan, mengesalkan, agak mengesalkan, atau tidak mengesalkan sama sekali.

Dari hasil survei itu, pengemudi ugal-ugalan juga menjadi hal yang paling tidak disukai oleh responden di Korea Selatan, Filipina, Malaysia, dan Thailand. Sementara responden di Cina mengeluhkan soal pelayanan buruk di toko/restoran. Responden Hong Kong, Singapura dan Taiwan, mengeluhkan soal meludah di tempat umum.

Urutan tindakan/hal yang paling mengesalkan bagi orang Asia adalah pengemudi ugal-ugalan dan penyerobot antrean (86 persen), meludah di tempat umum (84 persen), pelayanan buruk di toko-toko atau restoran (82 persen), membuang sampah sembarangan (79 persen), orang yang jorok (77 persen), kotoran anjing di jalan/taman (75 persen), memaki atau mengeluarkan kata-kata kasar (74 persen), tetangga yang berisik (69 persen), serta merokok di tempat umum (69 persen).

Orang Asia juga tidak suka pada orang yang tidak tepat waktu (68 persen), kerusakan komputer dan orang yang bicara keras-keras dengan telepon selular (66 persen), kendaraan umum yang penuh sesak (60 persen), para telemarketer (58 persen), iklan-iklan pop-up di internet (56 persen), perbaikan jalan (55 persen), orang yang tidak mengatakan tolong atau terima kasih (49 persen), mesin penjawab telepon otomatis (43 persen), dan kemasan plastik yang tidak dapat dibuka (40 persen).

KEJENGKELAN TERENDAH

Lebih jauh Widarti mengemukakan, dari seluruh responden di Asia, ternyata responden di Thailand merupakan yang paling jengkel terhadap 20 hal yang ditanyakan, sementara orang Singapura memiliki tingkat kejengkelan terendah.

Urut-urutannya adalah Thailand menempati urutan pertama dengan 14,5 persen, kemudian Filipina 14,2 persen, Cina 14,1 persen, Malaysia 13,5 persen, Taiwan 13,5 persen, Hong Kong 13,2 persen, Indonesia dengan 13,1 persen, Korea Selatan dengan 12,8 persen, dan Singapura dengan 12,1 persen.

Menurut Paulin Straughan, seorang profesor di Departemen Sosiologi National University of Singapore, hasil survei yang menempatkan Singapura pada tingkat kejengkelan terendah karena di Singapura sudah digalakkan kampanye sosial yang mendidik masyarakat terhadap macam-macam perilaku sosial, seperti "Keep Singapore Clean". "Mungkin kampanye ini berhasil," ujarnya.

Sedangkan Assiri Dhammachote, penulis sebuah kolom mengenai permasalahan sosial di koran Bangkok Kom Chad Lue berkomentar," Tingginya angka penggerutu di Thailand kemungkinan merupakan imbas dari ledakan pertumbuhan penduduk. Masalah seperti kemacetan lalu lintas dan polusi udara membuat orang seperti hilang ingatan."

Sementara Jim Plouffe, Pemimpin Redaksi Reader's Digest edisi Asia menyatakan, ada hal-hal yang menarik ketika survei dilakukan.

"Jika Anda bertanya kepada seorang urban yang sibuk tentang pukul berapakah saat ini, kemungkinan mereka akan mengacuhkan Anda. Tetapi bila Anda bertanya hal-hal yang membuat mereka jengkel, maka mereka akan bicara berjam-jam," ujarnya. (RS/A-16)

Sumber : Harian Suara Pembaruan Oleh : Charles Ulag, Last modified: 7/1/06

============================
Bangsa Ini Memerlukan Zhu

Oleh: Asro Kamal Rokan

Xiao Hongbo telah dihukum mati pekan lalu. Delapan orang pacarnya yang dibiayai dalam kehidupan mewah-- mungkin hanya menangisi lelaki berusia 37 tahun. Tidak ada yang bisa membantunya. Deputi manajer cabang Bank Konstruksi China, salah satu bank milik negara, di Dacheng, Provinsi Sichuan, itu dihukum mati karena korupsi. Xiao telah merugikan bank sebesar 4 juta yuan atau sekitar Rp 3,9 miliar sejak 1998 hingga 2001. Uang itu digunakan untuk membiayai kehidupan delapan pacarnya.

Xiao Hongbo satu di antara lebih dari empat ribu orang di Cina yang telah dihukum mati sejak 2001 karena terbukti melakukan kejahatan, termasuk korupsi. Angka empat ribu itu, menurut Amnesti Internasional (AI), jauh lebih kecil dari fakta sesungguhnya. AI mengutuk cara-cara Cina itu, yang mereka sebut sebagai suatu yang mengerikan.

Tapi, bagi Perdana Menteri Zhu Rongji inilah jalan menyelamatkan Cina dari kehancuran. Ketika dilantik menjadi perdana menteri pada 1998, Zhu dengan lantang mengatakan, "Berikan kepada saya seratus peti mati, sembilan puluh sembilan untuk koruptor, satu untuk saya jika saya melakukan hal yang sama".

Zhu tidak main-main. Cheng Kejie, pejabat tinggi Partai Komunis Cina, dihukum mati karena menerima suap lima juta dolar AS. Tidak ada tawar-menawar.
Permohonan banding wakil ketua Kongres Rakyat Nasional itu ditolak pengadilan. Bahkan istrinya, Li Ping, yang membantu suaminya meminta uang suap, dihukum penjara.
Wakil Gubernur Provinsi Jiangxi, Hu Chang-ging, pun tak luput dari peti mati.
Hu terbukti menerima suap berupa mobil dan permata senilai Rp 5 miliar.
Ratusan bahkan mungkin ribuan peti mati telah terisi, tidak hanya oleh para pejabat korup, tapi juga pengusaha, bahkan wartawan.

Selama empat bulan pada 2003 lalu, 33.761 polisi dipecat. Mereka dipecat tidak hanya karena menerima suap, tapi juga berjudi, mabuk-mabukan, membawa senjata diluar tugas, dan kualitas di bawah standar.

Agaknya Zhu Rongji paham betul pepatah Cina: bunuhlah seekor ayam untuk menakuti seribu ekor kera. Dan, sejak ayam-ayam dibunuh, kera-kera menjadi takut, kini pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 9 persen per tahun dengan nilai pendapatan domestik bruto sebesar 1.000 dolar AS. Cadangan devisa mereka sudah mencapai 300 miliar dolar AS.

Sukses Cina itu, menurut guru besar Universitas Peking, Prof Kong Yuanzhi, karena Zhu serius memberantas korupsi. Perang terhadap korupsi diikuti dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Zhu mengeluarkan dana besar untuk pendidikan manajemen, mengirim ribuan siswa belajar ke luar negeri, dan juga mengundang pakar bisnis berbicara di Cina.

Kini, lihatlah apa yang terjadi di Indonesia. Pengangguran terus bertambah, anak-anak gadis dari desa terpaksa menjadi pelacur di kota, lulusan SMU menjadi pengamen, anak-anak SD yang malu tidak dapat membayar uang sekolah, bunuh diri. Ratusan ribu orang tumpah ke kota-kota karena di desa tidak ada harapan. Ratusan ribu orang menjadi tenaga kerja di luar negeri, ditipu calo dan disiksa majikannya.

Mereka adalah korban. Koruptor menghisap hidup mereka, bertahun-tahun tanpa ada yang menolong. Koruptor mengambil hak mereka atas tanah, hak mereka atas air, hak mereka untuk sekolah, hak mereka untuk berdagang, hak mereka untuk bekerja, hak mereka untuk mendapatkan layanan, hak mereka untuk kesehatan.

Apalagi hak yang tersisa untuk orang-orang miskin itu?
Pemerintah bukan penolong orang-orang miskin,terkadang mereka juga mengambil uang dari orang-orang miskin. Bangsa ini memerlukan orang seperti Zhu Rongji, bukan pesolek.

Sebab, inilah keadaan utama Indonesia:
Jatuhkanlah tiga buah batu dari pesawat udara di wilayah Indonesia, maka yakinlah satu di antara batu itu akan mengenai kepala koruptor

Sumber : Republika Online, 10 Oktober 2005


=============================

Perang Sunyi Di Belantara Curiga

Oleh : Erry Riyana Hardjapamekas*


"Ibarat dua sisi mata uang, aksi pemberantasan korupsi kadang berada pada sisi atas, namun bisa saja fitnah, tebaran curiga, dan aneka modus serangan balik yang berada di sisi atas mata uang itu. "

Ibarat dua sisi mata uang, aksi pemberantasan korupsi kadang berada pada sisi atas, namun bisa saja fitnah, tebaran curiga, dan aneka modus serangan balik yang berada di sisi atas mata uang itu.

Serangan balik dilancarkan bila upaya pemberantasan korupsi mulai mengusik kepentingannya, orang-orangnya, dan/atau kelompoknya. Serangan balik tak cuma mengarah ke lembaga KPK, tetapi juga menyerang personal secara irasional. Rumor dan fitnah kerap ditebar untuk membangun tembok kecurigaan publik. Bahkan, kecurigaan bahwa upaya pemberantasan korupsi merupakan pesanan politik pemerintahan terhadap lawan-lawan politiknya, kerap dikembangkan dalam wacana-wacana publik.

Modus serangan balik pun dibungkus rapi dengan penilaian akan adanya pelanggaran prosedur hukum dan pelemahan sistematis yang perlahan terhadap institusi pemberantas korupsi.

Pengalaman itu rasanya telah banyak dialami selama hampir dua tahun berdirinya Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), pun waktu-waktu sebelumnya saat berbagai upaya pemberantasan korupsi dilakukan oleh kelompok-kelompok yang memimpikan Indonesia yang bersih, dan waktu pula telah mengajarkan bahwa hanya segelintir orang saja yang bermimpi Indonesia bebas korupsi.

Aksi-aksi penindakan yang dilakukan KPK seharusnya hanya menjadi cambuk atau pelecut untuk perbaikan sistem birokrasi di Indonesia. Namun faktanya, semua hanya menjadi penonton adegan demi adegan pemberantasan korupsi semua itu apakah Eksekutif, legislatif, maupun yudikatif tetap diam terpaku, meski satu per satu fakta dipertontonkan. Tidak ada satu pihak pun yang mencoba memanfaatkan momentum untuk perbaikan sistem. Akibatnya, aksi-aksi pemberantasan korupsi dari tahun ke tahun masih berkutat pada masalah yang sama.


Semua mungkin masih ingat apa yang dilakukan Sugiarto, Ketua Tim Pemberantasan Korupsi di tahun 1967. Ketika itu tim pemberantasan korupsi sudah menangkap seorang pejabat Polri, mengobrak-abrik Dolog, Pertamina, maupun Departemen Agama. Namun 37 tahun kemudian, pemandangan tetap sama. Kasus menjadi salah satu bukti bahwa minyak, gula, dan beras masih menjadi komoditi yang dikorupsi.

Lembaga-lembaga negara dan BUMN masih jadi ladang korupsi

Artinya, 37 tahun kemudian, Indonesia masih tetap berjalan di tempat, karena aksi penindakan yang bisa saja radikal ternyata tak membawa perubahan. Kuncinya satu, momentum penindakan tak segera diikuti dengan perbaikan sistem yang bisa mencegah praktik-praktik korup. Berbagai usulan untuk perbaikan sistem masih ditanggapi dengan dingin, baik oleh Eksekutif maupun Legislatif, dan Yudikatif.

Pemetaan gerakan antikorupsi belum juga kunjung dirampungkan, begitu pula dengan satuan tugas yang bertugas mereformasi birokrasi tetap hanya sebuah janji yang tak ditindaklanjuti.

Fakta-fakta ini menjadi bukti kecil bahwa tak banyak orang sadar Indonesia dalam kondisi darurat korupsi.

Tak banyak orang mau mengakui Indonesia sedang sakit. Aneka terobosan untuk mengobati Indonesia kerapkali dicibir sebagai upaya mengada-ada belaka. Pengalaman dua tahun ini telah memberi pelajaran banyak bagi gerakan antikorupsi, salah satu di anataranya ternyata masih sedikit orang yang ingin melihat Indonesia bersih.

Kesunyian dan kesendirian masih menemani niat baik melawan korupsi. Tak banyak teman, tak banyak kapital, dan tak banyak dukungan yang menemani gerakan melawan soliditas kekuatan para koruptor ini. Serangan-serangan balik mengajarkan bahwa gerakan antikorupsi masih belum masif.

Kelompok-kelompok antikorupsi masih merupakan kelompok kecil yang berjalan sendirian. Kesunyian "perang" masih menemani upaya melawan gegap gempitanya lawan yang punya segudang kapital, segunung dukungan politik dan kekuatan, serta segerombolan kawan. Soliditas kekuatan koruptor jauh lebih rekat dan besar dibandingkan soliditas antikorupsi yang sungguh sangat rentan diobrak-abrik.

Fakta-fakta di atas adalah realitas yang harus diterima sebagai konsekuensi logis sebuah pilihan. Realitas bahwa pemberantasan korupsi masih setengah hati, masih sebatas setengah niat adalah realitas yang tidak bisa dipungkiri.

Semua bersorak saat koruptor yang ditangkap adalah lawan politiknya, orang lain yang tak dikenal dekat, namun sikap ambigu muncul saat teman, sahabat, saudara, atau anggota separtai dikatakan koruptor. Ramai-ramai teriakan menghujat dilancarkan untuk menyerang aksi pemberantasan korupsi.

Teriakan antikorupsi ternyata masih sebatas slogan-slogan yang beterbangan di ruang-ruang kosong. Lontaran sporadis para pejabat negara menjadi bukti belum adanya kesadaran yang sama akan kondisi Indonesia yang sakit.

Teriakan bahwa korupsi telah memiskinkan rakyat memang menggema kencang di satu sisi, namun saat aksi pemberantasan korupsi mengobrak-abrik lembaga mereka, menyeret teman atau sahabat mereka, teriakan menghujat jauh lebih riuh menggema. Di samping itu semua, kerumitan praktik korupsi menjadi problem tersendiri.

Kerumitan tersebut menjadi sebuah komplikasi yang nyata karena upaya pengungkapan praktik korupsi belum didukung oleh tiga UU yang dipersyaratkan seharusnya ada, yakni UU Perlindungan Saksi dan Korban, UU Kebebasan memperoleh Informasi Publik, dan UU Pembuktian Terbalik.

Padahal dengan adanya ketiga UU itu ditambah cara berpikir progresif dengan strategi aktif menjemput bola, maka upaya-upaya mencari alat bukti untuk mengungkap praktik korupsi bisa lebih cepat dan lengkap. Negara dalam darurat korupsi haruslah menjadi pemahaman bersama sehingga terobosan-terobosan agresif tidak membuat masing-masing kita terkejut-kejut dan berteriak menghujat.

Belum lagi, soal lain, sekelompok orang yang sebenarnya memiliki niat yang sama atas dasar integritas individual yang baik, namun karena masing-masing berada di lembaga berbeda, muncullah semacam kecemburuan kelembagaan, atau lebih celaka lagi merasa ’saya paling bersih’, dan ’mereka memiliki masa lalu yang suram’. Tidak ada satu pun manusia yang bersih, termasuk kita. Sungguh sebuah kesia-siaan yang mengganggu akal sehat.

"Perang" melawan korupsi memang tak cuma butuh niat baik belaka yang dikemas dalam slogan-slogan kosong di ruang-ruang hampa udara. Perlu agresivitas luar biasa dan keberanian besar untuk mewujudkannya dalam aksi-aksi nyata memberantas korupsi.

Dan catatan yang perlu selalu diingat, korupsi bukanlah budaya, korupsi bisa terjadi karena sistem yang dibangun tidak benar dan sikap permisif yang masif terhadap praktik-praktik korupsi yang terakumulasi selama bertahun-tahun.


* Penulis adalah Wakil Ketua KPK

Sumber : Artikel , Opini , Cybermq-9/3/06

==========================

Wawancara :
Amien Rais : " Bongkar Kejahatan Freeport"






Tak ada yang berubah dari sosok Amien Rais.
Penampilannya yang sederhana, dan keberaniannya dalam mengeritik penguasa, masih tetap melekat pada tokoh reformasi ini. Urusan mengeritik penguasa, Amien tak main-main. Belakangan, lelaki kelahiran Surakarta, 26 April 1944 ini, kembali melakukan gebrakan. Isu lawas soal korupsi, perusakan lingkungan dan penjarahan besar-besaran yang dilakukan PT Freeport, sebuah perusahaan pertambangan asing, kembali ia gulirkan.
Dulu pada tahun 90-an, kritiknya soal Freeport menyebabkan ia 'ditendang' dari Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) oleh Suharto. Mengangkat isu ini menurut Amien, ibarat membentur tembok tebal.
Banyak pihak yang terlibat, terutama para pejabat bangsa ini dan kepentingan asing. Kepada wartawan SABILI Artawijaya dan Rivai Hutapea, mantan Ketua MPR-RI ini bicara blak-blakan soal Freeport.
Berikut wawancara lengkapnya yang berlangsung di pendopo dekat rumahnya di Condong Catur, Yogyakarta, pada Selasa (31/01).

Apa yang melatarbelakangi Anda kembali berteriak lantang soal Freeport?

Jadi pada awal reformasi saya betul-betul tidak bisa menerima sebagai anak bangsa, sebagai umat, melihat kelakuan investor asing yang mengeksploitasi kekayaan alam kita lewat industri pertambangan secara sangat ugal-ugalan, sangat tidak masuk akal. Malah waktu itu saya berhasil menguak pertambangan Busang, yang mestinya akan dibuka di Kalimantan, kemudian andaikata penipuan Busang itu menjadi kenyataan, maka mereka bisa menjual saham di New York dengan harga yang aduhai. Sementara sesungguhnya Busang itu pepesan kosong belaka. Kemudian setelah saya dengan izin Allah, berhasil membongkar kebohongan Busang itu, saya mengarahkan bidikan saya ke kejahatan yang dilakukan oleh PT Freeport McMoran disekitar Timika.

Saya mendasarkan kritik saya bukan hanya kata si Fulan dan si Fulanah, atau berdasarkan qaala wa qiila, tetapi saya memang datang sendiri ke pertambangan Freeport itu. Bahka saya sempat menginap disana dan saya relatif sudah menjelajahi selama setengah hari keadaan pertambangan itu. Sebagai seorang anak bangsa saya betul-betul tidak bisa menerima bahwa ada wilayah kita yang diacak-acak oleh perusahaan Amerika secara sangat menghina, karena sebuah gunung sudah lenyap menjadi danau yang sangat jelek. Kemudian entah berapa luasnya tanah sekitar pertambangan sudah rusak total. Saya juga melihat dengan mata kepala ada pipa besar yang dipasang dari pusat pertambangan di Grasberg disekitar Tembaga Pura itu turun kebawah sepanjang seratus kilometer sampai ke tepi laut Arafura. Kemudian ternyata pipa itu untuk menggotong concentrate atau biji tambang emas, perak dan tembaga yang kita tidak pernah tahu volume atau jumlahnya.

Apalagi saya diberi tahu bahwa jelas kali Freeport itu menggelapkan pembayaran pajaknya. Begitu saya mengungkapkan kenyataan ini sebagai sebuah kenyataan yang bertentangan dengan UUD 45, maka dua minggu kemudian (tahun 1993, red) saya ditendang dari ICMI oleh pak Harto. Setelah itu nampaknya Freeport sebentar melakukan konsolidasi, tidak begitu mencolok mata, bahkan lantas satu persen dari keuntungannya, katanya diberikan kepada masyarakat sekitar. Tapi yang dikerjakan Freepor makin gila, yaitu ada pelipatan wilayah yang dieksploitasi dengan izin pemerintah. Kemudian juga jumlah biji tambang yang diangkut ke luar lebih banyak lagi.
Selama saya jadi Ketua MPR hal ini tidak pernah saya pantau. Saya pernah dibujuk olehJames Moffett pada musim panas tahun 1997 waktu saya ada di Washington. Dia terbang ke New Orleans, dan mengiming-imingi saya. Kata dia, kalau mau saya akan diantar naik helikopter untuk tour ke daerah pertambangan Freeport, dan saya akan diberi keterangan bahwa Freeport tidak merusak ekologi atau lingkungan kita. Kemudian pada saat bersamaan saya di New York ketemu dengan Henry Kissinger. Ternyata dia salah satu Komisaris, dan dia dengan diplomasinya mengatakan, "Kalau Anda melihat penyelewengan hukum, maka beri tahu saya. Saya akan mengambil langkah koreksi." Tetapi semua itu tentu saja hanya sandiwara, karena yang terjadi penjarahan Freeport makin gila menjarah kekayaan kita. Karena itu dengan bismillah, nawaitu yang ikhlas, bukan niat oposisi pada pemerintah, mari kita bersama-sama membongkar kejahatan di Freeport ini.

Telah terjadi korupsi yang maha dahsyat di dunia pertambangan?

Korupsi itu diartikan sebagai tindakan yang merugikan negara lewat penyalahgunaan kekuasaan atau wewenang. Jadi korupsi yang dimengerti oleh KPK dan kita semua sudah betul, yaitu penyalahgunaan wewenang untuk kepentingan pribadi dan merugikan negara. Yang terjadi di Freeport itu memenuhi kriteria itu secara sangat telak. Negara dirugikan dalam jumlah ratusan atau saya yakin ribuan triliun sejak akhir tahun 60-an. Anda bayangkan, sebuah gunung lenyap, kemudian sudah dihitung bahwa volume ampas pertambangan, tailing, tanah, batu kerikil yang terbuang itu sama dengan dua kali kerukan terusan Panama, sekitar 6 miliar ton. Ini sebuah penghinaan nasional. Saya yakin sekali, kalau Freeport sebagai perusahaan pertambangan babon bisa kita benahi, maka yang kecil-kecil seperti Newmont Minahasa, Newmont NTB, perusahaan Gas Tangguh, dan lain-lain akan lebih bisa diperbaiki karena si babon itu telah lebih dahulu dibenahi. Kalo yang babon ini tetap dibiarkan mengacak-acak kekayaan alam kita, bahkan melakukan penghinaan nasional, maka saya khawatir orang asing akan mencibir kita bahwa pemerintah kita masih seperti dulu, masih bermental inlander, tidak berani mengangkat kepala terhadap asing. Ini tentu meyedihkan sekali. Jadi korupsi maha dahsyat ini harus kita lawan.

Korupsi dahsyat ini tertutup dengan gencarnya pemerintah mengusut korupsi kelas ecek-ecek?

Jadi ramenya pemerintah memberantas korupsi kecil-kecil, yang ratusan juta, yang puluhan juta, sesungguhnya untuk menyembunyikan yang besar-besar.
Jadi rakyat kita ini dibodohi oleh pemerintah kita sendiri. Dan memang rakyat kita sudah terkecoh, seolah-olah pemerintah sudah hebat dalam memberantas korupsi. Setelah 15 bulan berkuasa, menurut Political and Economic Risk Consultancy (PERC) lagi-lagi kita tetap nomor satu dalam korupsi di kawasan Asia ini.
Artinya, korupsi sejati masih tetap berlangsung. Sekarang yang dikejar-kejar hanya korupsi kecil-kecilan, sehingga media massa juga terkecoh, seolah-olah telah terjadi penanganan korupsi secara massif dan sungguh-sungguh. Padahal yang terjadi kucing-kucingan.

Anda pernah mengatakan korupsi di Freeport ini G to G (Goverment to Goverment). Bisa dijelaskan?

Memang ada pembiaran dari pemerintah kita terhadap bisnis yang juga melibatkan pemerintah asing, yang jelas-jelas merusak. Seperti diungkapkan oleh The New York Times, kemudian dimuat secara utuh di The International Herald Tribun tanggal 28-29 Desember 2005. Memang yang mengamankan penjarahan kekayaan bangsa itu adalah aparat keamanan dan pertahanan kita.
Saya tidak mau menyebut nama, tetapi hitam diatas putih dikatakan ada seorang mayor jenderal yang mendapatkan 150.000 US dollar dan ada seorang perwira tinggi kepolisian dapat sekian ratus ribu dollar.
Kemudian ada kolonel, mayor, kapten dan prajurit lain dapat amplop dari Freeport untuk mengamankan supaya orang tidak bisa masuk dan mengetahui hakikat kejahatan Freeport itu. Malah ada bukti otentik, sejak tahun 1996 sampai tahun 2004, Freeport mengeluarkan biaya pengamanan 20 juta US dollar yang dibagi ke lembaga. Ini dibayarkan kepada aparat keamanan kita untuk melindungi Freeport yang zalim itu untuk mengeruk kekayaan kita. Ini yang saya heran kenapa kok dibiarkan.

Pemerintah terkesan tunduk pada kepentingan asing?

Ya, memang ada kepentingan asing yang sangat menghina di Freeport ini. Ada dua jenis negara berkembang dalam menghadapi korporatokrasi yang cenderung maling atau klepto. Saya setuju dengan John Perkins bahwa korporatokrasi itu ada tiga pilar, yaitu: Big coorporation, Goverment dan International Bank. Tiga elemen ini berpacu untuk melakukan pengurasan kekayaan dunia ketiga. Nah, disini ada negeri-negeri yang berani mengangkat kepala dan berani mengatakan No! Terhadap korporatokrasi itu, seperti Thailand, India, RRC, Malaysia. Kita termasuk negeri yang walaupun tidak mengatakan Yes! Tapi tidak pernah mengatakan No! Sehingga begitu enaknya pihak asing menjamah kekayaan negeri kita. Saya pernah ceramah di Melbourne, saya
bertanya kepada perusahaan penambangan Australia, apakah salah saya sebagai orang Indonesia itu mematok bahwa dalam kontrak karya itu royalti yang kita terima itu bukan 15 persen, tapi 50 persen.
Mereka mengatakan tidak ada yang salah dengan pendapat itu karena semau tergantung dengan perjanjian. Tapi mengapa kita diam saja diberi 15 persen, itupun saya yakin sekali pembukuannya sudah tidak betul, karena
kita tidak tahu apa yang terjadi disana.

Apakah SDM kita sudah mampu mengelola pertambangan, jika kita harus lepas dari Freeport?

Ada wartawan yang mengatakan, pak Amien, bukankah kita sudah diuntungkan, karena mereka punya keahlian, mereka bawa mesin, mereka bawa uang, kemudian kekayaan kita dikeruk, kita dapat 15 persen, ini kan sudah lumayan. Saya katakan, kalau begitu apa bedanya dengan zaman penjajahan. Penjajah itu datang bawa mesin, bawa keahlian, bawa modal, kemudian kekayaan kita digotong, yang disisakan hanya untuk pantes-pantesan saja.

Sekarang kita sudah 60 tahun merdeka, sehingga Insya Allah sudah punya keahlian. Banyak lulusan dari ITB, UGM dan lain-lain yang mengatakan bahwa Freeport itu adalah pertambangan terbuka, tidak usah menggali perut bumi, tetapi hanya memecah batu-batuan, lantas digerus dijadikan biji tambang, kemudian jadi concentrate, kemudian menjadi batangan emas. Ini sangat mudah. Kata mereka, otak Indonesia itu lebih mampu, mengapa diberikan kepada Freeport.

Pemerintah kita tidak pernah mempersoalkan aspek pelanggaran yang dilakukan oleh Freeport, terutama soal dampak lingkungan?


Saya kembali pada teori hukum yang elementer. Dalam dunia moral dan hukum itu ada dua macam dosa dan kejahatan: Pertama, sin of crime of commission (Melakukan perbuatan dosa atau jahat). Kedua, sin of crime of ommision (Dosa membiarkan kejahatan). Jadi kalau pemerintah kita di depan matanya berlangsung kejahatan yang dilakukan oleh pihak asing, tetapi diam saja, malah memberikan peluang untuk berlangsungnya kejahatan itu, maka pemerintah kita telah melakukan kejahatan atau dosa membiarkan sebuah kejahatan berlangsung terus menerus. Jadi kalau saya melihat seorang perampok melakukan perampokan lalu saya diam saja, maka saya termasuk melakukan kejahatan ommisi, karena nggak berbuat apa-apa. Saya khawatir pemerintah kita dari masa ke masa kalau terus menjadi pemerintah komprador, yang meladeni kepentingan asing yang merugikan bangsa, maka pemerintah itu telah melakukan kejahatan. Disadari atau tidak.

Kalau begitu, membongkar Freeport sama dengan mengembalikan martabat bangsa?

Betul! Ini masalah bangsa Indonesia. Jadi saya menggelindingkan masalah besar ini dalam rangka save the nation, menyelamatkan bangsa dan masa depan bangsa. Saya tidak ada kepikiran isu ini menjadi gerakan politik yang remeh temeh, apalagi ada dagang sapi. Itu selain lucu, terhina. Ini adalah proyek besar menyelamatkan bangsa.

Seberapa parah imprealisme yang terjadi dalam kasus Freeport dan lainnya saat ini?

Saya kira cukup parah. Karena imperialisme itu berujung pada sebuah bangsa kehilangan kedaulatan dan kebebasannya untuk membangun dirinya sendiri tanpa bantuan asing. Sekarang ini kita mengetahui bahwa kita kehilangan kedaulatan kita. Untuk memecahkan masalah ekonomi nasional, kita pernah mendatangkan 'dukun' IMF. Sekarangpun utang kita sudah menjerat kita. Sekarang pun di kabinet itu sesungguhnya kembali di zaman IMF. Karena menteri keuangannya, menteri perdagangan dan Meno Ekuinnya itu orang-orang yang berorientasi pada IMF. Kemudian juga lihatlah, kita ini tidak berani mengangkat kepala menuruti kemauan WTO (World Trade Organization). Orang Jepang, orang Perancis, Kanada, Amerika, itu petaninya dilindungi. Tapi disini petani kita begitu tengkurap menghadapi WTO, sehingga apapun kata WTO kita kerjakan.

Kita ini jadi bangsa terjajah. Gula kita impor, disuruh impor paha ayam kita lakukan, impor beras, naikan BBM dan lain-lain. Jadi sudah tidak ada kedaulatan lagi. Sehingga kalau dibandingkan dengan pimpinan negara lain seperti Ahmadinejad yang melawan Barat, Mahathir yang berani menegakan kepala terhadap Barat, atau pemerintah Korea Utara yang juga demikian, India, Cina, atau negara-negara Amerika Latinnya. Saat ini dibandingkan negara-negara tersebut, Indonesia menjadi tontonan yang tidak lucu. Negara yang sudah merdeka 60 tahun, tapi mentalitasnya masih seperti inlander. Jadi mari kita kembali menjadi bangsa yang berdaulat, tanpa tekanan pihak manapun.

Apakah ada kepentingan politik pribadi dibalik isu ini, misalnya modal Anda di 2009 nanti?

Pertanyaan Anda sudah banyak ditanyakan. Bahkan ada yang menyatakan, "Pak Amien, Anda membedah soal Freeport ini secara sungguh-sungguh ini, hanya karena menginginkan dana kampanye pilpres 2009 dari pak Ginandjar Kartasasmita?" Saya gembira dengan komentar yang aneh-aneh ini. Tetapi kita diajarkan oleh al-Qur'an, Faidza 'azamta fatawakkal 'alallah, kalau sudah bertekad tinggal bertawakkal pada Allah. Kalau diperjalanan ada pro-kontra, ada fitnah, itu sesuatu yang sangat biasa sekali. Nabi yang sempurna saja itu dikatakan majnun, apalagi orang seperti Amien Rais.

Al-Qur'an juga menyuruh kita untuk terus melakukan nahi munkar. Kalau kita dikritik lantas surut, maka yang keenakan ya yang korupsi itu. Menurut saya, era Amien Rais itu sudah berlalu. Belakangan saya banyak mengambil i'tibar (pelajaran) bahwa pemimpin itu harus istiqamah, jangan sampai terjangkit penyakit nifaq (munafik).


FOTO-FOTO yang Diambil dari Lokasi Tambang PT. Freeport Indonesia











Keterangan Photo (1) :

Ladang Emas Freeport dari atas :

Lubang galiannya merusak keseimbangan alam.Tahun 1967 Freeport mengandeng pemerintah Indonesia mengeruk kekayaan alam yang diperkirakan mengandung cadangan bijih emas terbesar di dunia sebesar 2,5 milyar ton.Sayangnya, kontrak kerja mencantumkan soal pembagian hasil dengan RI hanya dari tambang saja.













Keterangan Photo (2) :

Kawasan Penambangan , Mega Proyek di kawasan terpencil. pengerukan alam Papua yang hanya memberikan royalty sebesar 9 persen untuk pemerintah RI. Ini sebuah imperialis gaya baru dari perusahaan multi nasional terhadap sebuah negara ketiga yang terlihat secara kasat mata.


















Keterangan Photo (3) :

Limbah Tailing , butiran pasir alami yang halus sisa dari pengolahan bijih tambang, yang dibuang ke sungai maupun laut mengakibatkan kerusakan benthos dan biota lainnya.Deposition Area Tailing (Tempat pembuangan sampah tailing) telah mencapai luas 230 km yang kemudian membentuk pulau-pulau kecil.Pembuangan sampah tailing dalam jumlah besar akan mengganggu ekosistem sekitar. Habitat hewan dan tumbuhan Taman Nasional Lorenz, pusat konservasi alam terbesar di Indonesia yang berdekatan dengan lokasi penambangan, dikhawatirkan akan tercemar, musnah. Dan ujung-ujungnya keseimbangan ekosistem alam akan terganggu. Bumi sekitar akan makin panas, tercemar dan tandus.Dan parahnya, dalam kontrak pengolahan tambang itu sama sekali tidak tercantum kewajiban Freeport untuk menangani tailing.


Sumber : Majalah Sabili No16 Th.XIII 23 Februari 2006/24 Muharram 1427