Monday, May 22, 2006

Cermin Budaya








BUDAYA BETAWI :
BUDAYA ASLI KOTA JAKARTA


Jakarta memang punya daya pesona luar biasa. Kedudukannya sebagai ibukota Negara Indonesia telah memacu perkembangannya menjadi pusat pemerintahan, pusat perdagangan, pusat perindustrian, dan pusat kebudayaan. Jakarta menjadi muara mengalirnya pendatang baru dari seluruh penjuru Nusantara dan juga dari manca negara. Unsur. seni budaya yang beranekaragam yang dibawa serta oleh para pendatang itu menjadikan wajah Jakarta semakin memukau, bagaikan. sebuah etalase yang memampangkan keindahan Jakarta ratna manikam yang gemerlapan. lbarat pintu gerbang yang megah menjulang Jakarta telah menyerap ribuan pengunjung dari luar dan kemudian bermukim sebagai penghuni tetap.

Lebih dari empat abad lamanya arus pendatang dari luar itu terus mengalir ke Jakarta tanpa henti-hentinya. Bahkan sampai detik inipun kian hari tampak semakin deras, sehingga menambah kepadatan kota. Pada awal pertumbuhannya Jakarta dihuni oleh orang-orang Sunda, Jawa, Bali, Maluku, Melayu, dan dari beberapa daerah lainnya, di samping orang-orang Cina, Belanda, Arab, dan lain-lain, dengan sebab dan tujuan masing- masing. Mereka membawa serta adat-istiadat dan tradisi budayanya sendiri Bahasa yang digunakan untuk berkomunikasi antar penduduk, adalah bahasa Melayu dan bahasa Portugis Kreol, pengaruh orang-orang Portugis yang lebih dari satu abad malang melintang berniaga sambil menyebarkan kekuasaanya di Nusantara.

Di Jakarta dan sekitarnya berangsur-angsur terjadi pembauran antar suku bangsa, bahkan antar bangsa, dan lambat laun keturunannya masing- masing kehilangan ciri-ciri budaya asainya. Akhirnya sernua unsur itu luluh lebur menjadi sebuah kelompok etnis baru yang kemudian Betawi etnis baru yang kemudian dikenal dengan sebutan masyarakat Betawi.

Dari masa ke masa masyarakat Betawi terus berkembang dengan ciri-ciri budayanya yang makin lama semakin mantap sehingga mudah dibedakan dengan kelompok etnis lain. Namun bila dikaji pada permukaan wajahnya sering tampak unsur-unsur kebudayaan yang menjadi sumber asalnya. Jadi tidaklah mustahil bila bentuk kesenian Betawi itu sering menunjukkan persamaaan dengan kesenian daerah atau kesenian bangsa lain.

Bagi masyarakat Betawi sendiri segala yang tumbuh dan berkembang ditengah kehidupan seni budayanya dirasakan sebagai miliknya sendiri seutuhnya, tanpa mempermasalahkan dari mana asal unsur-unsur yang telah membentuk kebudayaannya itu. Demikian pulalah sikap terhadap keseniannya sebagai salah satu unsur kebudayaan yang paling kuat mengungkapkan ciriciri ke Betawiannya, terutama pada seni pertunjukkannya..

Berbeda dengan kesenian kraton yang merupakan hasil karya para seniman di lingkungan istana dengan penuh pengabdian terhadap seni, kesenian Betawi justru tumbuh dan berkembang di kalangan rakyat secara spontan dengan segala kesederhanaannya. Oleh karena itu kesenian Betawi dapat digolongkan sebagai kesenian rakyat.

Salah satu bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat adalah ondel-ondel.

ONDEL-ONDEL

Sosok Ondel-ondel disimbolkan sebagai wujud leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau penduduk suatu desa.Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar ± 2,5 m dengan garis tengah ± 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalam. Ondel-ondel laki-laki di cat dengan warna merah, sedang yang perempuan dicat dengan warna putih.

Bentuk pertunjukan ini banyak persamaannya dengan yang terdapat di beberapa daerah lain. Di Pasundan dikenal dengan sebutan Badawang, di Jawa Tengah disebut Barongan Buncis, di Bali barong landung. Menurut perkiraan jenis pertunjukan itu sudah ada sejak sebelum tersebarnya agama Islam di Pulau Jawa. Semula ondel-ondel berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh halus yang gentayangan. Dewasa ini ondel-ondel biasanya digunakan untuk menambah semarak pesta- pesta rakyat atau untuk penyambutan tamu terhormat, misalnya pada peresmian gedung yang baru selesai dibangun. Betapapun derasnya arus modernisasi, ondel-ondel ternyata masih tetap bertahan dan menjadi penghias wajah kota metropolitan Jakarta.

GAMBANG KROMONG

Dalam dunia musik Betawi terdapat perbauran yang harmonis antara unsur pribumi dengan unsur Cina, dalam bentuk orkes gambang kromong yang tampak pada alat-alat musiknya. Sebagian alat seperti gambang,kromong, kemor, kecrek, gendang, kempul dan gong adalah unsur pribumi, sedangkan sebagian lagi berupa alat musik gesek Cina yakni kongahyan, tehyan, dan skong. Dalam lagu-lagu yang biasa dibawakan orkes tersebut, rupanya bukan saja terjadi pengadaptasian, bahkan pula pengadopsian lagu-lagu Cina yang disebut pobin, seperti pobin mano Kongjilok, Bankinhwa, Posilitan, Caicusiu dan sebagainya. Biasanya disajikan secara instrumental.
Terbentuknya orkes gambang kromong tidak dapat dilepaskan dari Nie Hu-kong, seorang pemimpin golongan Cina pada pertengahan abad ke- delapan belas di Jakarta. Pada saat itu ia memang dikenal sebagai penggemar musik. Atas prakarsanyalah terjadi penggabungan alat-alat musik yang biasa terdapat dalam gamelan pelog slendro dengan yang dari Tiongkok. Terutama orang- orang peranakan Cina, seperti halnya Nie Hu-kong, lebih dapat menikmati tarian dan nyanyian para ciokek, yaitu para penyanyi. Ciokeks merangkap penari pribumi yang biasa diberi nama bunga-bunga harum di Tiongkok, seperti Bwee Hoa, Han Siauw, Hoa, Han Siauw dan lain-lain. Pada masa-masa lalu orkes gambang kromong hanya dimiliki oleh babah- babah peranakan yang tinggal di sekitar Tangerang dan Bekasi, selain di Jakarta sendiri.

TARI COKEK

Dewasa ini orkes gambang kromong biasa digunakan untuk mengiringi tari pertunjukan kreasi baru, pertunjukan kreasi baru, seperti tari Sembah Nyai, Sirih Kuning dan sebagainya, disamping sebagai pengiring tari pergaulan yang disebut tari cokek. Tari cokek ditarikan berpasangan antara laki-laki dan perempuan. Tarian khas Tanggerang ini diwarnai budaya etnik China. Penarinya mengenakan kebaya yang disebut cokek. Tarian cokek mirip sintren dari Cirebon atau sejenis ronggeng di Jawa Tengah. Tarian ini kerap identik dengan keerotisan penarinya, yang dianggap tabu oleh sebagian masyarakat.



Sebagai pembukaan pada tari cokek ialah wawayangan. Penari cokek berjejer memanjang sambil melangkah maju mundur mengikuti irama gambang kromong. Rentangan tangannya setinggi bahu meningkah gerakan kaki.

Setelah itu mereka mengajak tamu untuk menari bersama,dengan mengalungkan selendang. pertama-tama kepada tamu yang dianggap paling terhormat. Bila yang diserahi selendang itu bersedia ikut menari maka mulailah mereka ngibing, menari berpasang-pasangan. Tiap pasang berhadapan pada jarak yang dekat tetapi tidak saling bersentuhan. Ada kalanya pula pasangan-pasangan itu saling membelakangi. Kalau tempatnya cukup leluasa biasa pula ada gerakan memutar dalam lingkaran yang cukup luas. Pakaian penari cokek biasanya terdiri atas baju kurung dan celana panjang dari bahan semacam sutera berwarna.

Ada yang berwarna merah menyala, hijau, ungu, kuning dan sebagainya, polos dan menyolok. Di ujung sebelah bawah celana biasa diberi hiasan dengan kain berwarna yang serasi. Selembar selendang panjang terikat pada pinggang dengan kedua ujungnya terurai ke bawah Rambutnya tersisir rapih licin ke belakang. Ada pula yang dikepang kemudian disanggulkan yang bentuknya tidak begitu besar, dihias dengan tusuk ronde bergoyang-goyang.

TEATER LENONG

Orkes gambang kromong biasa pula mengiringi teater lenong. Teater rakyat Betawi ini dalam beberapa segi tata pentasnya mengikuti pola opera Barat, dilengkapi dekor dan properti lainnya, sebagai pengaruh komedi stambul, komedi ala Barat berbahasa Melayu, yang berkembang pada awal abad ke- duapuluh.

Dewasa ini dikenal dua macam lenong. Bila yang dibawakan adalah cerita- cerita kerajaan atau cerita bangsawan, disebut lenong denes, sedang bila ceritanya diangkat dari kehidupan rakyat atau jagoan disebut lenong preman. Lenong denes dapat dianggap sebagai perkembangan dari beberapa bentuk teater rakyat Betawi yang dewasa ini telah punah, yaitu wayang sumedar, senggol, dan wayang dermuluk. Sedang lenong preman adalah perkembangan dari wayang sironda. Bahasa yang dipergunakan dalam lenong denes adalah bahasa Melayu Tinggi, yaitu variasi bahasa Melayu halus yang struktur dan perbendaharaan katanya bersifat Melayu Klasik. Sedangkan Bahasa yang dipergunakan dalam lenong preman adalah dialek Betawi sehari- hari, sehingga sangat komunikatif dan akrab dengan penontonnya.

ORKES TANJIDOR

Orkes tanjidor mulai timbul pada abad ke 18. VaIckenier, salah seorang Gubernur Jenderal Belanda pada jaman itu tercatat memiliki sebuah rombongan yang terdiri dari 15 orang pemain alat musik tiup, digabungkan dengan pemain gamelan, pesuling Cina dan penabuh tambur Turki, untuk memeriahkan berbagai pesta. Karena biasa dimainkan oleh budak-budak, orkes demikian itu dahulu disebut Slaven-orkes.

Pengaruh Eropa yang kuat pada salah satu bentuk musik rakyat Betawi, tampak jelas pada orkes tanjidor, yang biasa menggunakan klarinet, trombon, piston, trompet dan sebagainya. Alat-alat musik tiup yang sudah berumur lebih dari satu abad masih banyak digunakan oleh grup-grup tanjidor. Mungkin bekas alat-alat musik militer pada masa jayanya penguasa kolonial [tempo doeloe]. Dengan alat-alat setua itu tanjidor biasa digunakan untuk mengiringi helaran atau arak-arakan pengantin dengan membawakan lagu-lagu barat berirama mars dan wals. Lagu-lagu lama ini sulit dilacak asal-usulnya, karena telah disesuaikan dengan selera dan kemampuan ingatan panjaknya dari generasi kegenerasi. Dewasa ini tanjidor sering ditampilkan untuk menyambut tamu-tamu dan untuk memeriahkan arak-arakan.

KERONCONG TUGU

Musik Betawi lainnya yang banyak memperoleh pengaruh Barat adalah keroncong tugu yang konon berasal dari Eropa Selatan. Sejak abad ke 18 musik ini berkembang di kalangan Masyarakat Tugu, yaitu sekelompok masyarakat keturunan golongan apa yang disebut Mardijkers, bekas anggota tentara Portugis yang dibebaskan dari tawanan Belanda. Setelah beralih dari Katolik menjadi Protestan, mereka ditempatkan di Kampung Tugu, dewasa ini termasuk wilayah Kecamatan Koja, Jakarta Utara, dengan jemaat dan gereja tersendiri yang dibangun pertama kali pada tahun 1661. Pada masa-masa yang lalu keroncong ini dibawakan sambil berbiduk-biduk di sungai di bawah sinar bulan, disamping untuk pertunjukan, bahkan untuk mengiringi lagu-lagu gerejani.
Alat-alat musik keroncong tugu masih tetap seperti tiga abad yang lalu, terdiri dari keroncong, biola, ukulele, banyo, gitar, rebana, kernpul, dan selo.

Dalam hal kostum ada satu hal yang unik, yaitu tiap mengadakan pertunjukan dimana saja dan kapan saja, para pemainnya selalu mengenakan syal yang dililitkan pada leher masing-masing. Sedangkan para pemusik wanita mengenakan kain kebaya.

ORKES GAMBUS & ORKES REBANA

Musik Betawi yang berasal dari Timur Tengah adalah orkes gambus. Pada kesempatan-kesempatan tertentu, misalnya untuk memeriahkan pesta perkawinan, orkes gambus digunakan untuk mengiringi tari zafin, yakni tari pergaulan yang lazimnya hanya dilakukan oleh kaum pria saja. Tetapi sekarang ini sudah mulai ada yang mengembangkannya menjadi tari pertunjukan dengan mengikutsertakan penari wanita. Di samping orkes gambus, musik Betawi yang menunjukkan adanya pengaruh Timur Tengah dan bernafaskan agama Islam adalah berbagai jenis orkes rebana. Berdasarkan alatnya, sumber sair yang dibawakannya dan latar belakang sosial pendukungnya rebana Betawi terdiri dari bermacam-macam jenis dan nama, seperti rebana ketimpring, rebana ngarak, rebana dor dan rebana biang. Sebutan rebana ketimpring mungkin karena adanya tiga pasang kerincingan yakni semacam kecrek yang dipasang pada badannya yang terbuat dari kayu.
Kalau rebana Ketimpring digunakan untuk memeriahkan arak-arakan, misalnya mengarak pengantin pria menuju rumah mempelainya biasanya disebut rebana ngarak, disamping ada yang menggunakan rebana khusus untuk itu, yang ukurannya lebih kecil. Syair-syair yang dinyanyikan selama arak-arakan antara lain diambil dari kitab Diba atau Diwan Hadroh.

Rebana ketimpring yang digunakan untuk mengiringi perayaan - perayaan keluarga seperti kelahiran, khitanan, perkawinan dan sebagainya, disebut rebana maulid. Telah menjadi kebiasaan di kalangan orang Betawi yang taat kepada agamanya untuk membacakan syair yang menuturkan riwayat Nabi Besar Muhammad SAW. sebagai acara utamanya yang sering kali diiringi rebana maulid. Syair-syair pujian yang biasa disebut Barjanji, karena diambil dari kitab Syaraful Anam karya Syeikh Barzanji.

Rebana dor biasa digunakan mengiringi lagu lagu atau yalil seperti Shikah, Resdu, Yaman Huzas dan sebagainya.

Rebana kasidah (qosidah) seperti keadaannya dewasa ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari rebana dor. Lirik lirik lagu yang dinyanyikannya tidak terbatas pada lirik-lirik berbahasa Arab, melainkan banyak pula yang berbahasa Indonesia. Berlainan dengan jenis jenis rebana lainnya, pada rebana qasidah dewasa ini sudah lazim kaum wanita berperan aktif, baik sebagai penabuh maupun sebagai pembawa vokal. Dengan dernikian rebana kasidah lebih menarik dan sangat populer.

Orkes rebana biang di samping untuk membawakan lagu berirama cepat tanpa tarian yang disebut lagu-lagu zikir, biasa pula digunakan untuk mengiringi tari belenggo. Sebagaimana umumnya tarian rakyat, tari belenggo tidak memiliki pola tetap. Gerak tarinya tergantung dari perbendaharaan gerak-gerak silat yang dimiliki penari bersangkutan. Biasanya tari belenggo dilakukan oleh anggota grup rebana biang sendiri secara bergantian. Kalau pada masa-masa lalu tari belenggo hanya merupakan tari kelangenan, dewasa ini sudah berkembang menjadi tari pertunjukan dengan berpola tetap. Di samping itu orkes rebana biang biasa digunakan sebagai pengiring topeng belantek yaitu salah satu teater rakyat Betawi yang hidup di daerah pinggiran Jakarta bagian Selatan.

ORKES & TARI SAMRAH

Orkes samrah berasal dari Melayu sebagaimana tampak dari lagu-lagu yang dibawakan seperti lagu Burung Putih, Pulo Angsa Dua, Sirih Kuning, dan Cik Minah dengan corak Melayu, disamping lagu lagu khas Betawi, seperti Kicir-kicir, Jali-jali, Lenggang-lenggang Kangkung dan sebagainya. Tarian yang biasa di iringi orkes ini disebut Tari Samrah. Gerak tariannya menunjukkan persamaan dengan umumnya tari Melayu yang mengutamakan langkah langkah dan lenggang lenggok berirama, ditambah dengan gerak-gerak pencak silat, seperti pukulan, tendangan, dan tangkisan yang diperhalus. Biasanya penari samrah turun berpasang-pasangan. Mereka menari diiringi nyanyian biduan yang melagukan pantun-pantun bertherna percintaan dengan ungkapan kata-kata merendahkan diri seperti orang buruk rupa hina papa tidak punya apa-apa

TARI SILAT


Tari Betawi yang sepenuhnya merupakan aneka gerak pencak silat disebut tari silat. Tari ini ada yang diiringi tabuhan khusus yang disebut gendang pencak. Iringan lainnya yang juga bisa digunakan ialah gambang kromong, gamelan topeng dan lain-lain. Di kalangan masyarakat Betawi terdapat berbagai aliran silat seperti aliran Kwitang, aliran Tanah Abang, aliran Kemayoran dan sebagainya. Gaya-gaya tari silat yang terkenal antara lain gaya seray, gaya pecut, gaya rompas dan gaya bandul. Tari silat Betawi menunjukkan aliran atau gaya yang diikuti penarinya masing-masing.

BUDAYA BETAWI YANG DIPENGARUHI BUDAYA SUNDA


Pada gamelan ajeng, di samping ada pengaruh Sunda juga tampak adanya unsur Bali seperti pada salah satu lagu yang biasa diiringinya yang disebut lagu Carabelan atau Cara Bali. Pada awalnya gamelan ini bersifat mandiri sebagai musik upacara saja. Dalam perkembangan kemudian biasa digunakan untuk mengiringi tarian yang disebut Belenggo Ajeng atau Tari Topeng Gong. Orkes ini juga berfungsi sebagai pengiring wayang kulit atau wayang wong yaitu salah satu unsur kesenian Jawa yang diadaptasi oleh masyarakat Betawi terutama di pinggiran Jakarta.

Musik Betawi lainnya yang banyak menyerap pengaruh Sunda adalah gamelan topeng. Disebut demikian karena gamelan tersebut digunakan untuk mengiringi pagelaran teater rakyat yang kini dikenal dengan sebutan topeng Betawi. Popularitas topeng Betawi bagi masyarakat pendukungnya adalah kemampuannya untuk menyampaikan kritik sosial yang tidak terasa menggelikan hati. Salah satu contohnya adalah lakon pendek Bapak jantuk, tampil pada bagian akhir pertunjukan yang sarat dengan nasehat- nasehat bagi ketenteraman berumah tangga. Di antara tarian-tarian yang biasa disajikan topeng Betawi adalah Tari Lipetgandes, sebuah tari yang dijalin dengan nyanyian, lawakan dan kadang-kadang dengan sindiran-sindiran tajam menggigit tetapi lucu. Tari- tari lainnya cukup banyak memiliki ragam gerak yang ekspresif dan dinamis, seperti Tari Topeng Kedok,

Enjot-enjotan dan Gegot. Tari-tarian tersebut bukan saja digemari oleh para pendukung aslinya, tetapi juga telah banyak mendapat tempat di hati masyarakat yang lebih luas, termasuk kelompok etnis lain.

Beberapa penata tari kreatif telah berhasil menggubah beberapa tari kreasi baru dengan mengacu pada ragam gerak berbagai tari tradisi Betawi, terutama rumpun Tari Topeng. Tari kreasi baru itu antara lain adalah Tari Ngarojeng, Tari Ronggeng Belantek, Gado-gado Jakarta. Karya tari ini ternyata mampu memukau penonton, bahkan juga sampai pada Forum Internasional . Berbagai seni pertunjukan tradisional Betawi telah berkembang sesuai dengan perkembangan jaman dan masyarakat pendukungnya serta merupakan daya pesona tersendiri pada wajah kota Jakarta Untuk dapat menikmati dan menilainya tiada cara lain yang lebih tepat kecuali menyaksikannya sendiri.

Sumber :
  • Dinas Kebudayaan & Permuseuman Pemerintah Propinsi DKI Jakarta -
  • Cokek dan Puisi Rumah Kawin, Kompas, Jum'at 25 Pebruari 2005
  • http://www.kebudayaan.depdiknas.go.id/
===============================
AKULTURASI CHINA BENTENG,
Wajah Lain Indonesia



TIDAK seperti China peranakan pada umumnya, Ong Gian (47) berkulit gelap. Sehari-hari ia bekerja sebagai petani di Neglasari, Tangerang. Selain itu, ia juga awak kelompok kesenian gambang kromong yang sering tampil di acara-acara hajatan perkawinan.
Nenek moyangnya adalah China Hokkian yang datang ke Tangerang dan tinggal turun- temurun di kawasan Pasar Lama. Mereka masuk dengan perahu melalui Sungai Cisadane sejak lebih 300 tahun silam.

China Benteng memang selalu diidentifikasi dengan stereotip orang China berkulit hitam atau gelap (seperti si Ucup dalam sinetron ”Bajaj Bajuri”), jagoan bela diri, dan hidupnya pas-pasan atau malah miskin. Sampai sekarang, ternyata mereka juga tetap miskin meski sudah jarang yang jago bela diri.



Insert Photo :
Fanny Fadillah, warga keturunan Tionghoa (Ibu Tionghoa, bapak Solok , Sumatera Barat), kecil di daerah Ketapang , Gajah Mada. Berhasil mendulang ketenaran melalui Sinetron "Bajaj Bajuri" sebagai tokoh Ucup. (sumber : Tabloid Nova No. 950/XIX 14 Mei 2006)






Meski ada beberapa yang sudah berhasil sebagai pedagang, sebagian besar China Benteng hidup sebagai petani, peternak, nelayan. Bahkan, ada juga pengayuh becak.

SEJARAH CHINA di TANGERANG

Sejarah China Tangerang memang sulit dipisahkan dengan kawasan Pasar Lama (Jalan Ki Samaun dan sekitarnya) yang berada di tepi sungai dan merupakan permukiman pertama masyarakat China di sana. Struktur tata ruangnya sangat baik dan itu merupakan cikal-bakal Kota Tangerang. Mereka tinggal di tiga gang, yang sekarang dikenal sebagai Gang Kalipasir, Gang Tengah (Cirarab), dan Gang Gula (Cilangkap).Sayangnya, sekarang tinggal sedikit saja bangunan yang masih berciri khas peChinan.Bangunan tersebut banyak yang berubah menjadi toko dan pasar.

Pada akhir tahun 1800-an, sejumlah orang China dipindahkan ke kawasan Pasar Baru dan sejak itu mulai menyebar ke daerah-daerah lainnya. Menurut Tagara Wijaya, yang bernama asli Oey Tjie Hoeng (77), yang menjabat Ketua Umum Klenteng Boen Sen Bio (1967-1978), Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi (sistem barter) barang orang- orang China yang datang lewat sungai dengan penduduk lokal.

Mengenai asal-usul kata China Benteng, menurut sinolog dari Universitas Indonesia, Eddy Prabowo Witanto MA, tidak terlepas dari kehadiran Benteng Makassar. Benteng yang dibangun pada zaman kolonial Belanda itu-sekarang sudah rata dengan tanah-terletak di tepi Sungai Cisadane, di pusat Kota Tangerang.

Pada saat itu, kata Eddy, banyak orang China Tangerang yang kurang mampu tinggal di luar Benteng Makassar. Mereka terkonsentrasi di daerah sebelah utara, yaitu di Sewan dan Kampung Melayu. Mereka berdiam di sana sejak tahun 1700-an. Dari sanalah muncul, istilah "China Benteng".

Tahun 1740, terjadi pemberontakan orang China menyusul keputusan Gubernur Jenderal Valkenier untuk menangkapi orang-orang China yang dicurigai. Mereka akan dikirim ke Sri Lanka untuk dipekerjakan di perkebunan-perkebunan milik VOC.

Pemberontakan itu dibalas serangan serdadu kompeni ke perkampungan-perkampungan China di Batavia (Jakarta). Sedikitnya 10.000 orang tewas dan sejak itu banyak orang China mengungsi untuk mencari tempat baru di daerah Tangerang, seperti Mauk, Serpong, Cisoka, Legok, dan bahkan sampai Parung di daerah Bogor.Itulah sebabnya banyak orang China yang tinggal di pedesaan di pelosok Tangerang-di luar peChinan di Pasar Lama dan Pasar Baru.

Meski demikian, menurut pemerhati budaya China Indonesia, David Kwa, mereka yang tinggal di luar Pasar Lama dan Pasar Baru itu tetap disebut sebagai China Benteng.Sebagai kawasan permukiman China, di Pasar Lama dibangun kelenteng tertua, Boen Tek Bio, yang didirikan tahun 1684 dan merupakan bangunan paling tua di Tangerang. Lima tahun kemudian, 1869, di Pasar Baru dibangun kelenteng Boen San Bio (Nimmala).Kedua kelenteng itulah saksi sejarah bahwa orang-orang China sudah berdiam di Tangerang lebih dari tiga abad silam.

Dalam penelitiannya, sarjana Seni Rupa dan Desain ITB Jurusan Desain Komunikasi Visual, Y Sherly Marianne, antara lain menyebutkan, sekitar 80 persen dari 19.191 warga Kelurahan Sukasari di Kotamadya Tangerang adalah orang China Benteng. Angka statistik April 2002 ini tidaklah mengherankan karena Pasar Lama masuk dalam wilayah Sukasari.Menurut Sherly, kehidupan masyarakat China Benteng memang keras agar bisa bertahan hidup. Sebab, sebagian besar pekerjaan mereka bukan dalam bidang ekonomi, tetapi sebagai petani di pedesaan.

Yang unik dari masyarakat China Benteng adalah bahwa mereka sudah berakulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, misalnya, mereka sudah tidak dapat lagi berbahasa China. Logat mereka bahkan sudah sangat Sunda pinggiran bercampur Betawi. Ini sangat berbeda dengan masyarakat China Singkawang, Kalimantan Barat, yang berbahasa ina meskipun hidup kesehariannya juga banyak yang petani miskin.
Logat China Benteng memang khas. Ketika mengucapkan kalimat, "Mau ke mana", misalnya, kata "na" diucapkan lebih panjang sehingga terdengar "mau kemanaaaa".

GAMBANG KROMONG

Di bidang kesenian, mereka memainkan musik gambang kromong yang merupakan bentuk lain akulturasi masyarakat China Benteng. Sebab, gambang kromong selalu dimainkan dalam pesta-pesta perkawinan, umumnya diwarnai tari cokek yang sebenarnya merupakan budaya tayub masyarakat Sunda pesisir seperti Indramayu.

Meski demikian, masyarakat China Benteng masih mempertahankan dan melestarikan adat istiadat nenek moyang mereka yang sudah ratusan tahun. Ini terlihat pada tata cara upacara perkawinan dan kematian. Salah satunya tampak pada keberadaan "Meja Abu" di setiap rumah orang China Benteng.

"Tidak usah dipertentangkan. Realitasnya, masyarakat China Benteng memang sudah berakulturasi dengan lingkungan lokal, tapi mereka juga masih memegang adat istiadat kepercayaan nenek moyang dan leluhur mereka," kata Eddy.

Beberapa tradisi leluhur yang masih dipertahankan antara lain Cap Go Meh (perayaan 15 hari setelah Imlek), Pek Cun, Tiong Ciu Pia (kue bulan), dan Pek Gwee Cap Go (hari kesempurnaan).
Demikian pula panggilan encek, encim, dan engkong masih digunakan sebagai tanda hormat kepada orang yang lebih tua.

"Juga salam (pai) tetap dipertahankan dalam keluarga China Benteng pada saat bertemu dengan orang lain," kata Asiuntapura Markum (55) yang lahir di Tangerang.

Yang khas dari masyarakat China Benteng adalah pakaian pengantin yang merupakan campuran budaya China dan Betawi. Pakaian pengantin laki-laki, kata Eddy, merupakan pakaian kebesaran Dinasti Ching, seperti terlihat dari topinya, sedangkan pakaian pengantin perempuan hasil akulturasi China-Betawi yang tampak pada kembang goyang.

EKONOMI MASYARAKAT CINA BENTENG

SECARA ekonomi, masyarakat tradisional China Benteng hidup pas-pasan sebagai petani, peternak, nelayan, buruh kecil, dan pedagang kecil.
Ny Kenny atau Lim Keng Nio (48) yang tinggal di Gang Cilangkap RT 03 RW 02, Kelurahan Sukasari, Tangerang, misalnya, setiap hari harus bangun pagi-pagi untuk membawa dagangan kue ke pasar. Ong Gian, petani sawah di Neglasari yang nyambi menjadi pemain musik gambang kromong, juga harus bekerja keras untuk bisa mempertahankan hidup.

Fenomena China Benteng, kata Eddy, merupakan bukti nyata betapa harmonisnya kebudayaan China dengan kebudayaan lokal. Lebih dari itu, keberadaan China Benteng seakan menegaskan bahwa tidak semua orang China memiliki posisi kuat dalam bidang ekonomi. Dengan keluguannya, mereka bahkan tak punya akses politik yang mendukung posisinya di bidang ekonomi.

David Kwa lebih melihat fenomena China Benteng sebagai contoh dan bukti nyata proses pembauran yang terjadi secara alamiah. Masyarakat China Benteng hampir tidak pernah mengalami friksi dengan etnis lainnya. Kenyataan ini membuat David yakin, persoalan sentimen etnis lebih bernuansa politis yang dikembangkan oleh orang-orang yang punya kepentingan politik.
Realitas China Benteng yang tinggal di pusat kekuasaan politik dan ekonomi menunjukkan, masyarakat etnis China sesungguhnya sama dengan etnis lainnya. Ada yang punya banyak uang, tetapi ada pula yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Bahkan, Ridwan Saidi, pengamat budaya dari Betawi, melihat realitas China Benteng sebagai wajah lain Indonesia. Ada yang kaya, tetapi tidak sedikit pula yang miskin.
Bagi mereka, wajar kalau perayaan Tahun Baru Imlek menjadi pengharapan agar rezeki di tahun baru ini lebih baik dari tahun sebelumnya. Wajar pula bahwa meski sudah berakulturasi begitu dalam, mereka tetap membeli bunga sedap malam dan bersembahyang di kelenteng-kelenteng. (Robert Adi KSP)

Sumber : Harian Kompas, 3 Februari 2003


===========================
Sisi Lain China Benteng



Penyaluran subsidi langsung tunai atau BLT sebesar 300 ribu Rupiah untuk keluarga miskin banyak menuai masalah. Mulai dari penyaluran yang tidak tepat sasaran hingga jual beli kartu miskin. Masyarakat yang merasa diperlakukan tidak adil melakukan protes dengan merusak kantor kelurahan. Bahkan mengancam ketua RT setempat dan petugas BPS.

Pemerintah kemudian memutuskan meninjau kembali BLT dengan cara mendata ulang keluarga miskin. Meski dilakukan peninjauan ulang, masih ada yang luput dari perhatian. Seperti yang terjadi di kelurahan Dadap, Kecamatan Kosambi, Tangerang, Banten. Sebagian warganya adalah keturunan Tionghoa yang dikenal dengan sebutan China Benteng. Bisa dibilang kehidupan sehari-hari mereka sangat sederhana.

Meski tergolong kaum minoritas di Indonesia, mereka tak mendapatkan BLT, padahal kondisi ekonominya sangat pas-pasan. Alasannya, tidak memiliki KTP, SBKRI bahkan akte kelahiran. Padahal mereka tinggal bahkan lahir di daerah ini. Nasib pahit ini salah satunya menimpa keluarga Kwe Wan Nio, yang tinggal di bantaran kali. Ia bersama sekitar 200 kepala keluarga lainnya, sebagian besar hidup serba kesulitan.

Perempuan setengah abad yang lahir di Dadap ini harus rela menerima gelar sebagai China Benteng, yang identik dengan ekonomi miskin. Sudah sepuluh tahun lebih perempuan ini menjadi kepala keluarga menghidupi 4 anaknya dengan bekerja sebagai pemulung. Sang suami sudah lama menderita depresi, bersama ke 4 anaknya Kwe Wan Nio tinggal berbaur bersama China Benteng lainnya dengan menempati lahan milik PT Angkasa Pura, yang sewaktu-waktu siap untuk hengkang jika sang pemilik akan membongkar rumahnya.

Sampai sekarang Kwe Wan Nio dan keluarganya tidak memiliki kartu tanda penduduk, apalagi Surat Bukti Kewarganegaraan Republik Indonesia (SBKRI). Bagi Kwe Wan Nio, uang hasil jerih payah sebagai pemulung tentunya lebih baik dipakai untuk makan bersama keluarga daripada untuk mengurus KTP atau SBKRI yang baginya memakan biaya sungguh mahal.

Kwe Wan Nio hanya bisa mengelus dada melihat tetangga kampung berbondong-bondong menuju kantor pos untuk menerima subsidi BBM. Bahkan kartu sehat juga tak didapatnya. Hanya sekolah gratis bagi anaknya yang saat ini duduk di bangku Sekolah Dasar Negeri. Sikap protes kepada Ketua RT setempat telah diupayakan bersama keluarga lain yang tidak mendapatkan BLT. Namun hingga saat ini belum ada jawaban pasti apakah tahap kedua nanti mereka dapat menerima BLT atau tidak.

Berbeda dengan keluarga Kwe Wan Nio, keluarga Sumidah mendapat bantuan langsung tunai 300 ribu Rupiah. Namun, bantuan tersebut dirasa Sumidah tak cukup untuk menghidupi ke 8 anaknya yang masih kecil. Apalagi kondisi suaminya yang sakit sakitan. Keinginan Sumidah hanya satu, mendapatkan kartu sehat, sehingga bisa membawa suaminya yang sudah bertahun tahun sakit parah ke rumah sakit.

Permohonan bantuan kepada kepala desa setempat telah diupayakan, namun hingga kini kartu sehat belum diterimanya. Walau berat menanggung beban hidup, semangatnya untuk mencari nafkah tidak membuat Sumidah surut. Ia terus saja mengumpulkan mainan anak yang ditemukannya di tempat sampah. Dari usahanya ini, pendapatannya paling banter 5 ribu Rupiah selama seminggu.

Wajah gembira terpancar dari raut muka Sumidah, Kwe Wan Nio atau ibu-ibu lainnya warga kelurahan Kosambi, disaat ada uluran tangan dari para dermawan. Hanya dengan bantuan berupa sembako seperti inilah yang kadang mereka dapatkan untuk menopang hidup bersama keluarga. Meski begitu, mereka tak berpangku tangan, do'a selalu mereka panjatkan dengan harapan agar hidup lebih baik esok hari.

Sumber : TV Indosiar, Tayang : 2 November 2005, pukul 12.00 WIB (HORISON)

===========================
”Kami Orang Indonesia Asli"


DI sebuah sudut Kota Tangerang, warga Pecinan Pasar Lama merayakan HUT ke-60 kemerdekaan Indonesia, dengan perasaan yang benar-benar merdeka. Berbagai lomba digelar untuk anak-anak maupun dewasa. Anak-anak berlomba di lapangan, sementara sebagian pria dewasa, berkumpul di kelenteng bersembahyang dan mengadakan pertandingan catur.

Suasana meriah menyambut kemerdekaan RI itu memang terasa berbeda sejak berlangsungnya reformasi. Berbagai kegiatan budaya dan keagamaan yang sebelumnya dilakukan sembunyi-sembunyi, kini sudah terbuka.

Tak jarang berbagai pertunjukan budaya justru dipertontonkan ke masyarakat luas. Kendati sekarang ini ada yang merasakan kesakralan seni budaya, seperti Barongsai dan Liong, mulai berkurang karena digunakan untuk mengamen di jalanan.

"Sejak reformasi, kami bisa merasakan arti kebebasan. Masyarakat Tionghoa di sini tidak perlu sembunyi-sembunyi lagi untuk melakukan kegiatan agama maupun budaya," ujar Oey Tjing Eng (62) tokoh masyarakat Tionghoa Tangerang atau yang dikenal sebagai China Benteng kepada Pembaruan, Rabu (17/8).

Melihat postur Tjing Eng, yang juga dikenal sebagai budayawan yang aktif di kelenteng Boen Tek Bio di Jl Ki Samaun, kita mungkin tidak yakin kalau dia seorang keturunan Tionghoa. Kulitnya hitam, matanya tidak sipit. Gaya bicaranya juga seperti warga Tangerang umumnya.
Tipikal China Benteng ini memang berbeda jauh dengan warga Tionghoa di daerah lain, yang masih mewarisi ciri berkulit putih dan bermata sipit. Tak heran Tjing Eng menyebut mereka ini Indonesia asli.

"Kami ini Indonesia asli karena yang melekat di tubuh kami ada juga keturunan Indonesianya," ujarnya.

Menurut Tjing Eng, mereka sebenarnya enggan disebut sebagai warga keturunan, karena apa yang melekat pada diri mereka sekarang ini adalah apa yang juga ada pada masyarakat Indonesia umumnya. Mereka juga berharap, mempunyai hak yang sama sebagai bangsa Indonesia. Jadi, jika memungkinkan, bagi warga China Benteng, tidak ada lagi syarat yang disebutkan dalam undang-undang dasar, misalnya untuk menjadi pemimpin harus Warga Negara Indonesia asli.
"Sekali lagi, kami ini Indonesia asli," ujar Tjing Eng.

Cikal Bakal

Tidak semua orang China Benteng berprofesi sebagai pedagang yang hidupnya berkecukupan. Banyak juga yang bekerja sebagai petani, nelayan, bahkan tukang becak, yang hidupnya miskin dan sederhana. Umumnya mereka ini mendiami kawasan utara di sekitar Teluknaga dan Kosambi.

Dalam buku Ziarah Budaya Kota Tangerang yang ditulis Wahidin Halim, Walikota Tangerang, disebutkan, pada akhir tahun 1800 sejumlah orang Tionghoa dipindahkan ke kawasan Pasar Baru, Tangerang dan sejak itu mulai menyebar ke daerah-daerah lain. Pasar Baru pada tempo dulu merupakan tempat transaksi orang-orang Tionghoa, yang datang lewat sungai, dengan penduduk lokal.

Orang Tionghoa ini juga sudah beralkulturasi dan beradaptasi dengan lingkungan dan kebudayaan lokal. Dalam percakapan sehari-hari, seperti yang diucapkan Tjing Eng, tidak lagi menggunakan Bahasa China. "Sebagian kami tidak bisa berbicara atau menulis Bahasa China," ujarnya.
Di bidang kesenian, mereka memainkan musik gambang kromong yang merupakan bentuk lain akulturasi masyarakat China Benteng. Sebab, gambang kromong selalu dimainkan dalam pesta-pesta perkawinan dan dimeriahkan pula dengan penampilan tari cokek, yang sebenarnya merupakan budaya tarub masyarakat Sunda pesisir, seperti Indramayu.

Fenomena China Benteng merupakan bukti nyata betapa harmonisnya kebudayaan China dengan kebudayaan lokal. Lebih dari itu, keberadaan China Benteng menegaskan tidak semua orang Tionghoa memiliki posisi kuat dalam bidang ekonomi, bahkan tak punya akses politik yang mendukung posisinya di bidang ekonomi.

Sumber : Harian Suara Pembaruan, 17 Agustus 2005

(Kiriman : Pandji Kiansantang, Jakarta, 11 Mei 2006, Email : pandji.kiansantang@XXX.com)






No comments: